Baru-baru ini, sebuah penelitian mengejutkan yang dilakukan oleh Universitas Asia mengungkapkan bahwa ada orang yang secara alami lebih sensitif terhadap rasa sakit.
Penelitian ini berfokus pada pasien dengan rasa sakit kronis dan menemukan bahwa individu dengan ukuran amigdala yang lebih kecil, sebuah bagian otak yang berperan penting dalam mengatur rasa takut dan kecemasan, lebih rentan mengalami sensitivitas fisik yang tinggi.
Bahkan, sensasi rasa sakit bisa muncul tanpa adanya rangsangan fisik sama sekali. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Pain Medicine.
Mengungkap Rasa Sakit Kronis dan Peran Amygdala dalam Sensitivitas Rasa Sakit
Rasa sakit kronis memengaruhi lebih dari 1,5 miliar orang di seluruh dunia, menurut data dari American Academy of Pain Medicine pada 2020. Rasa sakit kronis didefinisikan sebagai rasa sakit yang berlangsung lebih dari tiga bulan, dengan gejala seperti sensasi tertusuk, rasa terbakar, nyeri yang terus-menerus, hingga sensasi seperti kejutan listrik, sering disertai dengan kekakuan atau ketegangan pada area yang terdampak.
Amygdala, yang berfungsi utama dalam mengatur rasa takut dan kecemasan, ternyata memiliki peran signifikan dalam fenomena ini. Ketika ukuran amigdala lebih kecil, bagian otak ini cenderung lebih aktif secara berlebihan sebagai kompensasi. Aktivitas berlebihan ini dapat menekan fungsi pemikiran rasional yang dikendalikan oleh korteks prefrontal, yang kemudian berujung pada gangguan mood, mudah marah, dan peningkatan level stres, yang pada gilirannya memperburuk persepsi terhadap rasa sakit.
Dua Pola Respons Rasa Sakit yang Umum
Lin Zhi-Long, Wakil Presiden sekaligus Direktur Bedah Saraf di rumah sakit afiliasi Universitas Asia, mencatat bahwa beberapa pasien pasca-operasi melaporkan adanya rasa sakit kronis yang sangat mengganggu kualitas hidup mereka. Bersama dengan Pusat Tulang Belakang dan Nyeri serta Pusat Psikologi Klinis rumah sakit tersebut, timnya meneliti lebih dari 200 pasien nyeri kronis dengan menggunakan alat umpan balik fisiologis untuk merekam detak jantung, respons sistem saraf otonom, dan aktivitas gelombang otak. Dua pola utama respons rasa sakit yang ditemukan adalah sebagai berikut:
Pada periode stres, sinyal fisiologis menunjukkan relaksasi, sementara pada periode istirahat, respons kecemasan yang tinggi terjadi.
Pada kondisi tidur yang disimulasikan, terjadi aktivitas berlebihan di wilayah otak prefrontal, yang menunjukkan keterlibatan mental yang lebih tinggi meski dalam kondisi seharusnya beristirahat.
Hubungan antara Ukuran Amygdala yang Lebih Kecil dan Sensitivitas terhadap Rasa Sakit
Menurut Ye Pin-Yang, Asisten Profesor Psikologi dan Direktur Pusat Psikologi Klinis Universitas Asia, temuan ini sangat berkaitan dengan fenomena yang dikenal dengan "pemikiran nyeri yang bersifat katastrofik." Pasien nyeri kronis sering menunjukkan hipersensitivitas terhadap rangsangan fisik, mengartikan rangsangan yang kecil atau bahkan tidak ada sama sekali sebagai rasa sakit. Reaksi anticipatory (sebelum terjadi) ini memunculkan rasa sakit psikologis, yang lebih bersifat mental ketimbang fisik.
Penelitian lebih lanjut melalui meta-analisis juga mengungkapkan bahwa individu dengan nyeri kronis umumnya memiliki amigdala yang lebih kecil, terutama di sisi kanan. Untuk tetap berfungsi, amigdala yang lebih kecil ini menjadi lebih aktif, yang menyebabkan salah tafsir terhadap input sensori dan memperkuat persepsi rasa sakit. Ini menunjukkan adanya hubungan erat antara ukuran amigdala yang lebih kecil dan sensitivitas rasa sakit yang lebih tinggi.
Mengatasi Rasa Sakit Psikologis dengan Terapi Perilaku Kognitif
Para ahli, Lin dan Ye, menekankan bahwa pengobatan nyeri kronis yang efektif harus memperhatikan aspek fisiologis dan psikologis secara bersamaan. Terapi Perilaku Kognitif (CBT) dapat membantu pasien untuk mengurangi pikiran-pikiran katastrofik terkait rasa sakit dengan mendorong mereka untuk memeriksa kembali sensasi yang dirasakan dan membedakan antara rasa sakit yang sesungguhnya dengan "alarm palsu." Latihan ini secara bertahap dapat melonggarkan keyakinan yang kaku tentang rasa sakit, membangun pola pikir yang lebih fleksibel, dan mengalihkan fokus dari rasa sakit ke aspek lain dalam hidup.
Selain itu, teknik biofeedback juga dapat membantu meredakan ketegangan fisik. Dengan menggunakan perangkat untuk memantau indikator fisiologis seperti gelombang otak, pernapasan, dan detak jantung, pasien dapat mempelajari cara mengatur tubuh mereka untuk mencapai kondisi relaksasi. Dengan latihan yang konsisten, pasien dapat lebih efektif mengelola ketidaknyamanan fisiologis selama episode nyeri yang nyata, sehingga mengurangi dampaknya secara keseluruhan.
Penelitian revolusioner ini menunjukkan hubungan yang rumit antara struktur otak dan persepsi rasa sakit, memberikan wawasan berharga untuk meningkatkan pengelolaan nyeri kronis yang lebih efektif dan lebih menyeluruh.