Berbeda dengan namanya, lubang hitam bukanlah kehampaan atau kekosongan, melainkan objek langit yang sangat misterius. Objek-objek kuno ini memiliki umur yang dapat mencapai miliaran tahun. Keberadaannya pertama kali diprediksi oleh teori relativitas umum milik Albert Einstein.
Astronom Jerman, Karl Schwarzschild, saat memecahkan persamaan medan gravitasi Einstein, menemukan bahwa memadatkan sejumlah materi ke dalam satu titik akan menciptakan sebuah wilayah yang disebut "event horizon" atau horizon peristiwa. Dalam batasan ini, bahkan cahaya sekalipun tidak dapat melarikan diri.
Dr. Sun Zhengfan, seorang ahli astrofisika dan komunikator sains, mencatat bahwa banyak astronom yang awalnya meragukan keberadaan lubang hitam, meskipun sudah ada prediksi teoretis tentangnya. Baru setelah kemajuan teknologi pengamatan, lubang hitam dapat dibuktikan secara ilmiah.
Istilah "lubang hitam" mulai dikenal luas setelah digunakan oleh fisikawan Amerika, John Archibald Wheeler, dalam sebuah konferensi di New York untuk menjelaskan teori Einstein dan penemuan terkait. Ketika mengkaji lubang hitam, ada tiga indikator utama yang digunakan, yaitu massa, momentum sudut, dan muatan. Namun, sifat internal dari lubang hitam tetap menjadi misteri karena keterbatasan teknologi saat ini.
Jatuh ke Dalam Lubang Hitam: Apakah Ada Peluang untuk Bertahan Hidup?
Lubang hitam adalah salah satu fenomena alam yang paling misterius di alam semesta, yang sering menginspirasi gambaran imajinatif dalam buku dan film. Sebagai contoh, dalam film Interstellar, para astronot selamat setelah jatuh ke dalam lubang hitam dan bahkan menemukan informasi berharga.
Hasil dari jatuh ke dalam lubang hitam bergantung pada karakteristik lubang hitam tersebut. Lubang hitam yang lebih kecil memiliki gradien gravitasi yang sangat curam, mirip dengan tebing terjal, yang akan merentangkan tubuh manusia menjadi "seperti spaghetti" sebelum mencapai horizon peristiwa. Di sisi lain, lubang hitam yang lebih besar, dengan medan gravitasi yang lebih lembut, mungkin memungkinkan seseorang untuk meluncur ke dalamnya lebih aman, seolah-olah menuruni sebuah lereng. Namun, meskipun seseorang bisa bertahan hidup saat memasuki lubang hitam, mengirimkan temuan apa pun kembali ke dunia luar adalah hal yang mustahil.
Para fisikawan mengandalkan model matematika untuk menghipotesiskan apa yang ada di dalam lubang hitam, tetapi pengamatan langsung atau verifikasi masih belum tercapai. Mendekati lubang hitam pun sangat tidak mungkin dilakukan dengan teknologi yang ada saat ini, sama halnya seperti mendekati Matahari.
Fakta Menarik Tentang Alam Semesta
Materi alam semesta terdiri dari blok bangunan yang kita kenal seperti neutron, atom, dan elektron. Menurut Sun Zhengfan, astrofisika mengaplikasikan hukum fisika yang ditemukan di laboratorium untuk memahami fenomena di alam semesta, memungkinkan para peneliti mempelajari materi kosmik di bawah kondisi tertentu.
Namun, alam semesta penuh dengan skenario ekstrem. Misalnya, meskipun beberapa wilayah mendekati suhu absolut nol, permukaan Matahari yang memiliki suhu sekitar 6.000 derajat Celsius terasa relatif sejuk dibandingkan dengan atmosfernya, yang mencapai lebih dari satu juta derajat Celsius. Paradoks ini masih belum dapat dijelaskan dengan baik.
Lubang cacing, seperti yang sering digambarkan dalam fiksi ilmiah, adalah konsep menarik lainnya. Secara teoritis, lubang cacing menghubungkan wilayah yang jauh di ruang-waktu, tetapi Sun Zhengfan menekankan bahwa saat ini lubang cacing hanya ada sebagai ide spekulatif dalam fiksi ilmiah.
Begitu pula dengan "lubang putih," yang digambarkan sebagai objek langit yang memancarkan energi dan materi tanpa menyerap apapun, merupakan konstruksi matematis dan belum terbukti secara fisik. Kedua konsep ini menantang prinsip dasar fisika.
Misteri Alam Semesta yang Belum Terpecahkan
Kosmos menyimpan berbagai misteri, seperti materi gelap dan energi gelap. Buku-buku sains populer seperti Astrophysics for Busy People menggali asal-usul alam semesta dan fenomena-fenomena seperti cahaya tak terlihat.
Sun Zhengfan menekankan pentingnya komunikasi sains, menjelaskan bahwa pemahaman publik tentang astronomi dapat mengklarifikasi banyak kesalahpahaman. Sebagai contoh, Jupiter, dengan akumulasi energi yang cukup dan fusi nuklir di dalamnya, bisa memancarkan cahaya, tetapi hanya Matahari di tata surya kita yang benar-benar mampu melakukannya.
Eksplorasi ilmiah sering kali mengungkap kebenaran yang sulit dibayangkan. Peran para ahli dalam komunikasi sains adalah untuk memastikan bahwa masyarakat tidak salah paham dengan makna harfiah dari istilah ilmiah.
"Masih ada banyak rahasia di alam semesta yang menunggu untuk ditemukan oleh umat manusia," kata Sun Zhengfan sebagai penutup.