Konsep tantangan no-buy cukup sederhana namun berdampak besar: Berkomitmen untuk menghindari pembelian yang tidak penting selama periode tertentu. Baik itu selama sebulan atau setahun penuh, tantangan keuangan yang diberlakukan sendiri ini dapat membantu Anda mengatasi utang kartu kredit, mengurangi kekacauan, dan mengendalikan kebiasaan belanja impulsif. Meskipun mengikuti tantangan semacam ini mungkin terdengar menantang, para ahli dan peserta memberikan berbagai strategi untuk menjadikannya lebih mudah dikelola. Jika Anda siap mencoba tantangan no-buy, berikut adalah beberapa tips untuk membantu Anda tetap di jalur yang benar.
Identifikasi Kelemahan Pengeluaran Anda
Langkah pertama untuk mencapai kesuksesan dalam tantangan ini adalah memahami ke mana uang Anda pergi. Analisis kebiasaan pengeluaran Anda di masa lalu dan tentukan item atau kategori yang cenderung menguras dompet Anda secara tidak perlu.
Mia Westrap, seorang mahasiswa Ph.D. di Southampton, Inggris, menemukan bahwa minuman berkarbonasi adalah pengeluaran yang tidak terduga. Dia menyadari bahwa ia menghabiskan ribuan poundsterling setiap tahunnya hanya untuk minuman seperti Pepsi Max. Dengan mengidentifikasi kelemahan ini, ia dapat menargetkannya sebagai bagian dari tantangan no-buy yang diikutinya.
Apakah itu makanan cepat saji, pakaian, atau barang-barang kecil yang dibeli di bagian dengan harga murah di toko, mengenali pemicu pengeluaran Anda akan membantu Anda merencanakan tantangan dengan lebih tepat. Mengetahui di mana Anda cenderung menghabiskan uang yang tidak perlu akan membuat Anda lebih mudah untuk menahan diri.
Tentukan Aturan Anda Sendiri
Salah satu daya tarik utama dari tantangan no-buy adalah fleksibilitasnya untuk disesuaikan dengan kebutuhan Anda. Anda yang memilih apa yang dilarang dan apa pengecualian yang boleh dilakukan.
Amea Wadsworth, seorang wanita berusia 22 tahun dari San Diego, menjadikan tantangan no-buy-nya berfokus pada menghentikan pembelian pakaian baru. Sebagai gantinya, ia memprioritaskan pengalaman bersama orang-orang tercinta. Mulai dari yang kecil, ia berkomitmen untuk satu bulan dalam sekali waktu, yang dirasa lebih terjangkau daripada harus berkomitmen selama setahun penuh.
Menulis aturan Anda dapat memberikan kejelasan dan akuntabilitas. Namun, sangat wajar untuk menyesuaikan aturan tersebut seiring dengan berjalannya waktu. Yang terpenting adalah kemajuan, bukan kesempurnaan. Anda tidak perlu terjebak dalam aturan yang terlalu ketat. Sesuaikan aturan jika Anda merasa perlu.
Berhenti Sejenak Sebelum Membeli
Pembelian impulsif sering kali dipicu oleh faktor emosional. Untuk mengatasinya, cobalah membuat "daftar jeda" sebelum membeli sesuatu. Alih-alih langsung membeli barang secara impulsif, tuliskan barang tersebut dan tinjau kembali daftar itu di akhir bulan.
Wadsworth merasa pendekatan ini sangat membantu. Ia mengatakan, “Saya melihat kembali dan merasa senang tidak membeli barang-barang yang saya tuliskan, karena ternyata saya tidak benar-benar membutuhkannya.”
Dengan memberikan jeda sebelum membeli, Anda memberi waktu untuk mengevaluasi apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau tidak. Ini akan membantu Anda membuat keputusan pengeluaran yang lebih bijaksana.
Berhenti Berlangganan dan Membatalkan Follow
Media sosial dan email promosi seringkali menjadi godaan untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak Anda butuhkan. Jika hal-hal ini menjadi pemicu belanja Anda, pertimbangkan untuk berhenti mengikuti akun-akun yang memicu keinginan Anda untuk berbelanja.
Courtney Alev, seorang advokat keuangan konsumen di Credit Karma, menyarankan untuk mengambil jeda dari influencer atau merek yang mendorong konsumsi berlebihan. Menghilangkan petunjuk visual tersebut dapat secara signifikan mengurangi godaan dan membantu Anda tetap berkomitmen pada tujuan no-buy Anda.
Bersikap Baik pada Diri Sendiri
Pengeluaran tak terduga atau kesalahan kecil pasti akan terjadi. Mobil yang rusak atau denda tak terduga, seperti yang dialami Westrap selama tantangannya, dapat menggagalkan niat terbaik sekalipun.
Carrie Rattle, CEO Behavioral Cents, menekankan bahwa kegagalan bukan berarti Anda gagal. “Jika Anda gagal, mungkin Anda perlu sedikit lebih banyak bantuan. Anda bukan seorang gagal; Anda hanya gagal pada satu metode saja,” ujarnya.
Membangun kebiasaan keuangan yang lebih baik memerlukan waktu dan kesabaran. Berikan diri Anda ruang untuk belajar dari setiap langkah kecil, rayakan kemenangan kecil, dan jangan terlalu keras pada diri sendiri saat menghadapi kemunduran. Setiap langkah yang diambil untuk menuju kebiasaan yang lebih sehat sangat berharga.
Tantangan no-buy lebih dari sekadar latihan keuangan, ini adalah kesempatan untuk memikirkan kembali hubungan Anda dengan uang, mengurangi sampah konsumsi, dan fokus pada apa yang benar-benar penting. Dengan mengenali pemicu pengeluaran, menetapkan aturan yang realistis, memberi jeda sebelum membeli, dan memaafkan diri sendiri atas kemunduran, Anda bisa membuat kemajuan yang berarti menuju tujuan keuangan Anda. Ingat, usaha yang Anda lakukan untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat adalah yang paling penting.