Apakah Anda pernah merasakan sensasi meluncur di atas salju segar dengan kecepatan tinggi?
Atau mungkin Anda baru mencoba pelajaran ski pertama di lereng yang lembut? Ski memang menyuguhkan perpaduan antara adrenalin dan keindahan alam yang sulit ditandingi olahraga lain.
Namun, dengan kecepatan, ketinggian, dan cuaca dingin, risiko cedera juga mengintai. Cedera lutut, benturan kepala, dan patah tulang bisa terjadi dalam sekejap, sering kali dialami oleh mereka yang merasa sudah sangat berhati-hati.
Lantas, bagaimana cara menikmati ski tanpa harus menghabiskan musim penuh dengan penyangga lutut atau gips? Kunci utamanya bukan hanya mengurangi kecepatan, melainkan memahami risiko, memakai perlengkapan yang tepat, serta belajar mendengarkan sinyal dari tubuh dan kondisi gunung. Simak langkah-langkah penting untuk menjaga keselamatan dan mencegah cedera saat Anda bermain ski, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman.
Ski adalah olahraga yang menggabungkan gerakan cepat, medan yang tidak bisa diprediksi, dan perubahan cuaca yang cepat. Kombinasi ini membuat ski menuntut fisik dan penuh tantangan.
Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons (AAOS), beberapa cedera umum dalam ski adalah:
Terkilir lutut, terutama robekan ligamen ACL: Terjadi saat lutut berputar secara paksa, biasanya akibat jatuh atau berhenti mendadak.
Dislokasi dan patah tulang bahu: Sering kali akibat jatuh atau benturan.
Patah pergelangan tangan:Biasanya karena upaya mencegah jatuh dengan tangan yang terulur.
Cedera kepala dan gegar otak: Akibat benturan dengan objek atau orang lain, yang membutuhkan perhatian serius.
Sebagian besar cedera ini bisa dicegah dengan persiapan yang tepat: mulai dari latihan kekuatan dan kebugaran, memakai perlengkapan pelindung seperti helm, menguasai teknik ski yang benar, hingga mematuhi aturan di lereng.
Anda tentu tidak akan mengendarai mobil dengan ban botak atau rem rusak. Begitu pula saat bermain ski, perlengkapan yang tepat sangat penting.
Perhatikan hal berikut sebelum turun ke lereng:
- Sepatu ski yang pas: Sepatu yang terlalu longgar atau terlalu sempit bisa mengurangi kontrol dan meningkatkan risiko jatuh.
- Binding: Harus disesuaikan oleh teknisi profesional sesuai tinggi badan, berat, dan tingkat keahlian. Binding ini berfungsi melepaskan kaki saat jatuh agar mencegah cedera.
- Helm: Wajib dipakai oleh siapa saja. Data dari National Ski Areas Association menunjukkan penggunaan helm menurunkan cedera kepala serius hampir 50%.
- Tongkat ski: Pilih yang sesuai tinggi tubuh dan mudah digenggam dengan sarung tangan.
- Pakaian berlapis: Gunakan pakaian yang dapat mengatur kelembapan, jaket berinsulasi, dan jaket luar tahan air.
- Tips penting: Sewa perlengkapan dari toko bersertifikat atau beli dari merek terpercaya dengan layanan fitting yang baik. Perlengkapan berkualitas buruk justru menambah risiko cedera.
Meski terlihat santai, ski sangat membutuhkan pemanasan untuk menghindari cedera otot.
Beberapa pemanasan yang bisa Anda lakukan sebelum turun:
- Gerakan dinamis seperti ayunan kaki, lunges, dan putaran lengan.
- Kardio ringan seperti jalan cepat atau jumping jacks selama 5–10 menit.
- Latihan keseimbangan, karena keseimbangan sangat penting untuk mencegah jatuh.
Mulailah di lereng yang landai agar tubuh bisa beradaptasi sebelum menantang medan yang lebih curam.
Jatuh memang tidak bisa selalu dihindari, tapi cara Anda jatuh bisa meminimalkan cedera.
Saat jatuh, usahakan:
- Tetap rileks, jangan kaku.
- Hindari menahan jatuh dengan tangan karena sering menyebabkan patah pergelangan.
- Biarkan binding melepaskan kaki Anda, jangan melawan jatuh.
- Geser tubuh, jangan mencoba menggali tanah dengan ski, karena gesekan bisa menyebarkan energi benturan.
Instruktur ski biasanya mengajarkan teknik jatuh aman sejak awal, jadi jika belum, jangan ragu meminta pelajaran khusus.
Banyak cedera bukan karena teknik buruk, tapi keputusan yang salah.
Ikuti aturan berikut saat berada di lereng:
- Kendalikan kecepatan sesuai kemampuan, terutama di medan baru.
- Patuhi rambu dan larangan, karena ada alasan keamanan seperti batu tersembunyi atau bahaya longsor.
- Jangan berhenti di tempat yang tidak terlihat, jika ingin istirahat, pindahlah ke pinggir.
- Beri jalan kepada yang di depan karena mereka punya prioritas.
Tim patroli ski bekerja keras menjaga keamanan, tapi semua tergantung kerjasama para pemain ski.
Kelelahan sangat berpengaruh pada kecelakaan ski, terutama menjelang sore saat otot mulai lelah dan fokus menurun.
Waspadai tanda berikut:
- Sulit berbelok atau berhenti.
- Reaksi lambat.
- Jatuh lebih berat dan pemulihan lama.
- Merasa dingin, lapar, atau pusing.
Jika Anda bertanya pada diri sendiri, “Haruskah saya turun satu kali lagi?” biasanya jawabannya sebaiknya tidak.
Es, angin kencang, kabut tebal, atau kondisi salju yang berubah bisa mengubah jalur mudah menjadi berbahaya.
Sebelum ski, cek:
- Ramalan cuaca terkait angin dan badai salju.
- Laporan kondisi lereng seperti es, jalur tertutup, atau risiko longsor.
- Suhu udara, salju dingin lebih cepat dan es mudah terbentuk setelah pagi cerah.
Bawa peta kecil area ski dan pastikan ponsel Anda terisi penuh untuk keadaan darurat.
Bermain ski di lereng bersalju memberikan pengalaman tak terlupakan. Namun, keseruan itu harus dibarengi dengan kesadaran dan persiapan yang tepat agar tidak berakhir dengan cedera. Dengan perlengkapan yang pas, teknik yang benar, dan mendengarkan sinyal tubuh, Anda bisa menikmati ski lebih sering dan penuh rasa percaya diri.
Apakah Anda pernah jatuh saat ski? Atau punya ritual khusus agar tetap aman saat bermain ski? Bagikan pengalaman Anda, siapa tahu, tips Anda bisa membantu orang lain tetap aman di musim ski ini!