Pernahkah Anda menyaksikan aksi pesenam yang melompat, berputar, dan menahan posisi ekstrem dengan begitu mudah? Terlihat seolah tubuh mereka tanpa batas!
Tapi tahukah Anda, di balik gerakan yang indah itu ada rahasia latihan yang sangat terstruktur, bagaimana mereka bisa menjaga fleksibilitas tinggi sekaligus memiliki kekuatan luar biasa.
Fleksibilitas dan kekuatan bukan hanya dua hal penting dalam dunia senam, keduanya harus berjalan beriringan agar tubuh tetap seimbang, tangguh, dan bebas dari cedera. Yuk, kita kupas tuntas cara pesenam melatih tubuh mereka, dan pelajari bagaimana kita pun bisa menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari!
Banyak orang mengira fleksibilitas hanya soal bisa membungkuk atau membuka kaki selebar mungkin, dan kekuatan hanya soal mengangkat beban berat. Tapi di dunia senam, keduanya saling melengkapi.
Tanpa kekuatan yang cukup, otot yang fleksibel justru rentan cedera. Sebaliknya, tanpa fleksibilitas, otot yang kuat jadi kaku dan membatasi gerakan. Kuncinya adalah melatih keduanya secara bersamaan. Inilah cara pesenam membangun tubuh yang luwes tapi tetap kokoh seperti baja.
Sebelum memulai latihan apa pun, pesenam selalu melakukan pemanasan yang serius. Bukan sekadar lari ringan atau lompat di tempat, tetapi serangkaian gerakan dinamis yang dirancang untuk membuka persendian dan mengaktifkan otot.
Latihan seperti ayunan kaki, putaran lengan, dan rotasi punggung dilakukan untuk meningkatkan aliran darah dan memperluas jangkauan gerak secara bertahap. Ini juga sangat efektif dalam mencegah cedera di awal latihan.
Fleksibilitas tidak bisa dicapai dalam semalam. Pesenam melatihnya setiap hari dengan metode yang tepat: stretching statis dan dinamis.
Stretching statis dilakukan dengan menahan posisi tertentu selama 20–30 detik. Ini membantu memanjangkan otot secara perlahan dan aman.
Stretching dinamis melibatkan gerakan terkontrol dalam rentang gerak penuh. Ini berguna untuk meningkatkan kelincahan dan reaksi otot.
Area yang paling sering dilatih meliputi bahu, punggung, pinggul, dan paha belakang. Jika dilakukan secara teratur, fleksibilitas ini bisa dirasakan manfaatnya dalam kegiatan harian seperti berjalan, duduk, bahkan saat bekerja.
Menariknya, pesenam jarang mengandalkan alat berat. Mereka lebih sering menggunakan berat tubuh sendiri sebagai beban untuk melatih kekuatan.
Latihan seperti push-up, pull-up, plank, dan angkat kaki menjadi menu utama. Gerakan ini tidak hanya membangun otot lengan atau perut, tapi juga meningkatkan keseimbangan dan koordinasi tubuh.
Fokus utamanya adalah kualitas, bukan kuantitas. Gerakan dilakukan perlahan dan terkontrol agar setiap otot benar-benar bekerja maksimal. Inilah yang membuat tubuh pesenam terlihat ramping tapi padat berisi.
Tahap yang paling menantang sekaligus paling efektif adalah ketika fleksibilitas dan kekuatan digabungkan dalam satu gerakan.
Contohnya, mempertahankan posisi split sambil mengangkat tubuh ke atas, atau menyeimbangkan tubuh di satu kaki dalam posisi lunge yang dalam. Ini bukan hanya menguji kekuatan dan kelenturan, tapi juga koordinasi, stabilitas, dan kontrol tubuh secara keseluruhan.
Latihan fungsional seperti ini mencerminkan gerakan nyata dalam senam, dan menjadi kunci untuk membangun tubuh yang benar-benar seimbang.
Latihan keras tanpa pemulihan yang cukup justru berbahaya. Karena itu, pesenam sangat menjaga waktu istirahat dan pemulihan.
Kami menggunakan teknik seperti foam rolling, stretching ringan setelah latihan, serta menjaga pola makan bergizi agar otot bisa pulih dengan baik. Tubuh yang dipaksa terus-menerus tanpa istirahat justru akan cepat lelah dan mudah cedera.
Ahli fisioterapi dan ilmuwan olahraga sepakat bahwa kombinasi fleksibilitas dan kekuatan adalah kunci performa maksimal. Penelitian dalam Journal of Sports Science & Medicine menyatakan bahwa atlet yang menggabungkan kedua jenis latihan ini memiliki stabilitas sendi yang lebih baik serta performa yang lebih konsisten.
Ini memperkuat prinsip bahwa latihan harus dilakukan secara seimbang, bukan hanya fokus pada satu sisi saja.
Baik Anda pemula maupun sudah berpengalaman, prinsip ini tetap relevan. Pemula bisa memulai dengan gerakan dasar seperti stretching ringan dan latihan plank singkat, sementara yang sudah mahir bisa menantang diri dengan gerakan yang lebih kompleks.
Yang paling penting adalah personalisasi, menyesuaikan latihan dengan kebutuhan dan kemampuan tubuh masing-masing. Para pelatih profesional biasanya menyusun program yang berbeda untuk tiap individu.
Meskipun latihan ini berasal dari dunia senam, prinsip dasarnya bisa diterapkan oleh siapa saja. Anda ingin postur lebih baik, bebas nyeri punggung, atau lebih gesit saat beraktivitas? Latihan kombinasi fleksibilitas dan kekuatan ini jawabannya.
Banyak latihan modern seperti pilates dan functional training juga menggunakan pendekatan yang sama. Artinya, Anda tak perlu jadi pesenam untuk bisa punya tubuh yang seimbang dan kuat.