Kami menunjuk lukisan di dinding rumah kami dan berkata, "Lucu. Sangat… komersial." Lalu muncul jeda itu, jeda yang seolah mengharapkan rasa malu.
Lukisan itu sebenarnya sederhana. Sebuah karya abstrak yang kami beli dengan harga terjangkau. Kami menyukai perpaduan warnanya. Ada ketenangan yang muncul setiap kali memandangnya.
Ruangan terasa lebih hangat, lebih hidup. Namun, di mata sebagian orang, itu bukan "seni sungguhan". Mungkin Anda pernah melihat hal serupa. Pilihan seni seseorang diremehkan. Disebut murah, dangkal, atau sekadar tempelan tanpa makna. Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: sejak kapan kita mulai menjaga gerbang tentang apa yang pantas disebut seni dan apa yang hanya layak disebut dekorasi?
Masuklah ke toko perlengkapan rumah, dan Anda akan melihat rak penuh lukisan cetak massal, pemandangan alam, bunga, atau pola abstrak. Labelnya jelas: hiasan dinding. Banyak orang langsung menganggapnya aman, membosankan, atau terlalu umum. Tapi kenapa?
Cara berpikir ini terbentuk dari kebiasaan lama. Galeri dianggap bernilai. Museum dianggap lebih tinggi lagi. Cetakan daring atau produk massal sering diposisikan paling bawah. Seolah-olah jumlah produksi menentukan kedalaman makna.
Padahal, ini jarang soal kualitas. Ini soal status.
Menyebut sesuatu sebagai "sekadar dekorasi" sering kali menjadi cara halus untuk berkata, "Selera kami lebih tinggi." Dan tanpa sadar, kalimat itu lebih menilai orangnya daripada karya di dinding.
Konsep "selera bagus" tidak muncul begitu saja. Kami dibentuk oleh latar belakang, pendidikan, dan akses. Jika seseorang terbiasa mengunjungi pameran seni atau mempelajari sejarah seni, kami mungkin menyukai karya yang berani, minimalis, atau tidak biasa. Namun itu tidak otomatis membuat pilihan orang lain menjadi salah.
Menyukai reproduksi lukisan klasik yang tenang atau kanvas bunga cerah dari toko furnitur bukan tanda kurang selera. Itu tanda bahwa seseorang menemukan sesuatu yang berbicara kepadanya. Bukankah itu inti dari seni?
Ada orang yang menggantung lukisan karena warnanya serasi dengan sofa. Ada yang karena mengingatkan pada kampung halaman. Ada pula yang membelinya karena harganya terjangkau dan mengisi dinding kosong. Semuanya sah.
Masalahnya bukan pada karyanya, melainkan tekanan untuk selalu membenarkannya.
Media sosial memperkeruh keadaan. Kita melihat rumah-rumah dengan tata letak sempurna dan karya "statement" yang ditempatkan strategis. Pesannya jelas: dinding rumah bukan hanya soal selera, tetapi juga citra.
Akibatnya, muncul rasa malu terhadap karya yang dianggap terlalu umum. Jika lukisan Anda tidak orisinal, tidak bertanda tangan, atau tidak berasal dari pembuat independen, Anda berisiko dianggap malas atau kurang berkelas. Dekorasi rumah berubah menjadi ajang pamer simbol budaya.
Padahal, tidak semua orang ingin rumahnya mengesankan orang asing. Banyak dari kita hanya ingin merasa nyaman saat pulang.
Bayangkan jika kita berhenti menilai seni dari harga, asal, atau kesan mendalamnya, lalu menggantinya dengan satu pertanyaan sederhana: apakah ini berarti bagi kami?
Karena kenyataannya, sering kali ada lebih banyak kejujuran dalam kanvas sederhana daripada karya mahal yang dipilih hanya agar terlihat "tepat" di mata publik.
Berikut tiga pergeseran cara pandang yang bisa dicoba:
- Sadari reaksi tanpa menghakimi.
Saat melihat hiasan dinding seseorang dan merasa tidak suka, berhentilah sejenak. Tanyakan alasannya. Apakah benar soal karyanya, atau tentang makna yang Anda lekatkan padanya?
- Hormati cara setiap orang membangun makna.
Kami mungkin menemukan emosi dalam abstraksi yang acak. Orang lain menemukannya dalam pemandangan pantai atau langit senja. Itu bukan dangkal, itu subjektif.
I- ngat bahwa tidak semua seni harus menjadi pernyataan.
Kadang seni hanya soal warna, kenangan, atau kenyamanan. Tidak setiap dinding perlu memancing diskusi panjang.
Apa yang kami gantung di dinding adalah cerminan suasana hati, memori, dan kebutuhan sederhana untuk merasa betah. Meremehkan pilihan seni seseorang karena tidak sesuai standar selera pribadi justru membuka banyak hal tentang cara pandang kita sendiri.
Jadi, lain kali Anda memasuki rumah seseorang dan melihat lukisan daun keemasan atau ilustrasi kota yang lembut, tahan dulu kritik dalam hati. Cobalah bertanya: apa yang membuat mereka memilih ini?
Di balik setiap cetakan, termasuk yang dibeli di toko besar, biasanya ada alasan. Dan alasan itu layak dihargai, sama seperti label galeri atau museum.
Karena pada akhirnya, seni bukan tentang siapa yang paling paham. Seni adalah tentang siapa yang paling merasakan.