Pernahkah Anda berdiri di depan sebuah lukisan dan merasa hampa?
Anda menatap percikan warna, membaca deskripsi beberapa kali, mengangguk pada teman, tapi di dalam hati Anda bertanya: Apakah saya yang salah?
Jika Anda pernah merasa seni modern seperti berbicara dalam bahasa yang tidak Anda kenal, percayalah, Anda tidak sendirian. Masalahnya bukan pada Anda. Masalahnya adalah, entah bagaimana, seni modern berhenti berusaha menemui penontonnya di tempat mereka berada. Dan mungkin, hanya mungkin, seni itu memang tidak dimaksudkan untuk semua orang.
Ada kepercayaan diri yang aneh dalam seni modern. Sering kali karya-karya ini menolak untuk menjelaskan dirinya, menghindari keindahan konvensional, dan malah bangga membuat orang bingung. Anda masuk ke galeri dan melihat kanvas kosong atau tumpukan batu bata, dan berpikir, "Serius?"
Tapi kenyataannya, banyak seni kontemporer memang tidak dibuat untuk penonton biasa. Seni itu lahir dari teori atau komentar pribadi, dibuat untuk audiens tertentu yang sudah fasih dalam bahasa itu. Kelompok ini bisa terdiri dari kritikus, kolektor, akademisi, atau sesama seniman. Penonton biasa sering kali hanya melihat dari luar dan merasa terpinggirkan.
Ini bukan soal tingkat kecerdasan. Ini soal akses. Bayangkan Anda datang ke pertunjukan komedi dalam bahasa yang tidak Anda mengerti. Ruangan tertawa, Anda mengangguk dan pura-pura ikut tertawa. Itulah yang sering terjadi dengan seni modern.
Ketika seseorang berkata, "Anda tidak mengerti," biasanya maksudnya adalah Anda tidak memiliki pengetahuan latar belakang seperti yang saya miliki. Memang benar, tapi ini juga masalah. Karena ketika seni menuntut pengetahuan tentang filosofi, sejarah seni, atau detail-detail tertentu, ia membangun tembok yang memisahkan dirinya dari sebagian besar orang.
Inilah inti masalah eksklusivitas seni. Ia memberitahu banyak orang bahwa mereka tidak diundang, lalu menyalahkan mereka karena tidak memahaminya. Ironisnya, eksklusivitas ini justru sering memberi nilai pada karya tersebut. Lukisan yang hanya bisa dijelaskan oleh seorang ahli terasa istimewa. Ia menjadi bagian dari dunia di mana pemahaman adalah kekuatan. Dan kekuatan itu bisa dibeli, dipamerkan, dan dijual.
Hasilnya adalah seni yang lebih banyak berbicara pada percakapan internal elit daripada menyentuh emosi manusia biasa.
Iya. Meskipun seni modern tidak dibuat untuk Anda, ia tetap bisa menawarkan sesuatu jika Anda mengubah cara melihatnya.
Pertanyaan ini menambah tekanan pada Anda dan karya itu sendiri. Sebagai gantinya, coba tanyakan: bagaimana perasaan saya saat melihat ini? Atau, apa yang mengingatkan saya pada ini? Anda tidak perlu memecahkan kode seni seperti teka-teki. Perlakukan seperti musik. Anda tidak mendekode lagu, Anda merasakannya.
Banyak seniman saat ini tidak berusaha menciptakan sesuatu yang indah. Mereka ingin menyampaikan pesan, memicu ketidaknyamanan, atau merespons dunia. Patung logam yang terbalik mungkin tidak "cantik," tapi bisa mencerminkan keramaian kota atau perasaan hidup dalam dunia yang serba cepat dan sibuk.
Tidak setiap karya adalah jenius. Ada seni yang terkesan pretensius, ada yang terasa malas, dan ada yang hebat tapi bukan untuk Anda. Itu wajar. Anda berhak berkata, "Tidak, ini bukan untuk saya." Tapi ketika Anda melakukannya, tanyakan pada diri sendiri mengapa. Jawaban itu mungkin memberi wawasan lebih dari seni itu sendiri.
Semakin banyak seniman yang bekerja di luar galeri, membagikan karya di ruang publik, media sosial, atau proyek komunitas. Mereka menggunakan bahan sehari-hari, bercerita, dan mengajak partisipasi. Karya mereka berbicara dengan cara yang jelas namun tetap kuat tentang pengalaman hidup nyata.
Para kreator ini menentang tembok "Anda tidak cukup pintar" yang kadang dibangun seni modern. Mereka bertanya: bagaimana jika seni tidak memerlukan buku panduan? Bagaimana jika seni bisa menemui Anda di tempat Anda berada?
Ini tidak berarti semua seni harus sederhana. Tapi kompleksitas tidak boleh mengorbankan koneksi dengan penonton.
Itulah pertanyaan yang tidak nyaman. Jika sebuah lukisan hanya bisa dipahami oleh segelintir orang, apakah ia masih penting? Mungkin iya. Mungkin tidak.
Pertanyaan yang lebih bermanfaat adalah: bisakah seni lebih dari sekadar percakapan pribadi? Bisa. Dan seharusnya. Seni harus mengundang, mencerminkan kehidupan, dan memberi ruang bagi orang untuk merasa terlihat, tertantang, atau sekadar penasaran. Tidak perlu menyederhanakan karya, cukup sediakan tempat bagi semua orang di meja itu.
Lain kali Anda berada di galeri atau melihat karya seni online, jangan bertanya, "Haruskah saya menyukai ini?"
Coba langkah ini:
Perhatikan reaksi pertama Anda. Bosan, bingung, tidak nyaman. Itu sah.
Baca judul atau konteks. Sedikit informasi bisa memberi kejelasan baru.
Lepaskan kebutuhan untuk menemukan jawaban "benar." Apa yang Anda lihat lebih penting daripada apa yang dikatakan orang lain.
Jadilah penasaran, bukan terlalu hormat. Seni terbaik bukan sesuatu yang sakral. Ia hidup.
Seni modern bisa terasa seperti dibuat untuk orang lain. Mungkin memang begitu. Tapi bukan berarti karya itu tidak bisa menjadi milik Anda juga. Anda tidak harus memahami setiap karya. Cukup percayai apa yang Anda lihat dan perasaan yang muncul.
Karena jika seni punya satu tujuan, itu bukan untuk pamer. Tujuannya adalah membuat Anda merasakan sesuatu. Bahkan jika itu frustrasi. Dan mungkin, dari situlah percakapan sebenarnya dimulai.