Akhir pekan lalu, kami berdiri di depan sebuah lukisan yang dulu pernah membuat kami menangis.
Lukisan itu berani, abstrak, penuh kekacauan dan perasaan, sesuatu yang dulu selalu menghentikan langkah kami. Tapi kali ini, kami hampir tidak melihatnya.
Kami terlalu sibuk menghindari ponsel, mencoba agar tidak muncul di latar belakang foto orang lain. Sepasang pengunjung di dekat kami bergantian berpose. Mereka bahkan tidak menatap guratan kuas di atas kanvas. Saat itu, sebuah pertanyaan muncul: apakah kita benar-benar datang ke museum untuk menikmati seni, atau hanya untuk difoto?
Dulu, museum adalah ruang tenang untuk merenung. Sekarang, museum menjadi latar favorit Instagram. Pengunjung tidak lagi mengantri untuk melihat karya seni, melainkan untuk mendapatkan sudut yang tepat, pencahayaan yang pas, atau spot yang sedang viral. Banyak yang bahkan tidak tahu siapa pencipta karyanya.
Ini bukan tentang menyalahkan siapa pun yang memotret. Foto adalah kenangan. Namun, ketika mengambil foto menjadi tujuan utama kunjungan, sesuatu berubah. Karya seni menjadi properti, dan museum berubah menjadi semacam ladang konten.
Ada perbedaan besar antara memotret karya karena hati Anda tersentuh dan datang ke museum hanya karena karya itu sedang tren.
Seni seharusnya dinikmati. Berdiri di depan karya, membiarkan diri bingung, tertantang, atau merasakan sesuatu, bahkan jika itu membuat tidak nyaman, adalah bagian dari pengalaman. Tetapi keterlibatan emosional membutuhkan waktu. Waktu yang sulit didapat ketika tujuan utama hanyalah membuat postingan sempurna.
Kebiasaan ini, mencari pengalaman hanya untuk dibagikan, tidak hanya terjadi di museum. Kita melihatnya di matahari terbenam, kafe, bahkan dalam protes atau aksi publik. Tapi ketika datang ke seni, dampaknya terasa lebih tajam. Saat lukisan menjadi latar, bukan subjek, kekuatan karya itu hilang. Dan pengunjung kehilangan kesempatan untuk benar-benar tersambung dengan karya tersebut.
Anda mungkin berpikir: "Apa salahnya? Museum ramai, seni tetap terlihat, semua senang."
Tidak sesederhana itu. Perubahan ini membawa konsekuensi nyata:
Keterlibatan yang dangkal: Memotret hanya butuh dua detik. Memahami karya bisa butuh dua puluh menit. Yang satu memberi "like", yang lain memberi makna.
Keramaian dan gangguan: Ketika galeri dipenuhi orang yang berpose untuk foto, mereka yang datang untuk merenung dengan tenang seringkali tidak bisa. Ruang menjadi performatif, bukan kontemplatif.
Tekanan sosial: Tidak membagikan kunjungan ke museum bisa terasa seperti kesempatan yang terlewat. Ada nilai sosial dalam menunjukkan di mana Anda berada, meski Anda sebenarnya tidak benar-benar mengalaminya.
Seni menjadi mudah terlupakan: Jika kunjungan hanya untuk foto, begitu diunggah, karya itu dilupakan. Seni tidak lagi meninggalkan kesan mendalam, tapi menjadi tren sementara yang cepat berlalu.
Anda tidak perlu meninggalkan ponsel sepenuhnya. Namun, ada beberapa cara sederhana untuk memfokuskan kembali perhatian pada seni:
- Tinggalkan kamera untuk sementara: Cobalah berdiri di depan satu karya tanpa ponsel selama 10 menit. Amati seperti melihat seseorang, benar-benar melihat.
- Pilih satu karya untuk diperhatikan: Tidak perlu melihat semua karya. Temukan satu lukisan atau patung yang menarik. Luangkan waktu, baca tentang karyanya, biarkan karya itu berbicara.
- Ambil foto setelah merasa terhubung: Jika karya itu benar-benar menyentuh Anda, ambil foto untuk mengabadikan momen itu—bukan untuk membuat momen palsu.
- Tuliskan pengalaman, bukan unggahan: Catat apa yang Anda lihat, apa yang mengejutkan, apa yang membuat Anda berhenti sejenak. Refleksi ini sering meninggalkan kesan lebih lama daripada sekadar caption.
- Hormati ruang bersama: Museum adalah pengalaman kolektif. Berikan kesempatan bagi orang lain untuk menikmati, bukan hanya untuk men-scroll.
Ada kebebasan yang luar biasa saat menyimpan momen hanya untuk diri sendiri. Tidak ada kamera, tidak ada audiens, hanya Anda dan seni.
Seni tidak membutuhkan persetujuan kita. Tidak perlu viral, tidak harus estetik. Yang dibutuhkan adalah dirasakan. Dan koneksi semacam itu tidak hidup di dunia maya, ia hidup dalam diri Anda, lama setelah meninggalkan museum.
Jadi, lain kali Anda masuk ke galeri, coba lakukan ini: lewatkan selfie. Biarkan seni yang menjadi pusat perhatian. Anda mungkin akan terkejut dengan apa yang benar-benar Anda lihat.