Pernahkah Anda melihat seekor rubah berlari cepat melintasi jalan perumahan, atau rakun yang tampak penasaran menjelajahi halaman belakang rumah? Fenomena ini bukan kebetulan.
Di berbagai belahan dunia, mulai dari Amerika Utara, Australia, hingga Singapura, satwa liar semakin sering berbagi ruang hidup dengan manusia di kawasan perkotaan.
Kehadiran satwa liar di kota bukan sekadar pemandangan unik yang menghibur. Ini adalah sinyal kuat bahwa alam sedang beradaptasi dengan cara hidup manusia. Di sisi lain, kondisi ini juga menantang Kami untuk memikirkan ulang bagaimana kota dirancang, dikelola, dan dikembangkan agar aman dan berkelanjutan bagi semua makhluk hidup.
Ada banyak alasan mengapa hewan-hewan liar mulai mendekati kawasan perkotaan. Kota menyediakan sumber makanan yang relatif stabil, suhu yang lebih hangat terutama saat cuaca dingin, serta lebih sedikit pemangsa alami. Selain itu, hilangnya habitat alami akibat pembangunan membuat banyak satwa tidak memiliki pilihan lain selain menyesuaikan diri dengan lingkungan buatan manusia.
Tanpa disadari, aktivitas manusia juga sering mendorong kehadiran mereka. Sampah yang tidak tertutup rapat, sisa makanan di taman, atau kebiasaan memberi makan satwa liar membuat kota menjadi tempat yang menarik. Namun, ini bukan berarti satwa liar sedang "menguasai" kota. Yang terjadi adalah proses penyesuaian dua arah. Kota perlahan menjadi bagian dari habitat mereka, sementara mereka belajar memahami ritme kehidupan manusia.
Di Melbourne, marsupial kecil seperti sugar glider terlihat melompat di antara pepohonan taman kota dan kebun warga. Mereka tampak percaya diri berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Untuk mencegah kerusakan tanaman, beberapa pohon dilindungi dengan pembungkus khusus, sehingga keseimbangan antara alam dan ruang hijau kota tetap terjaga.
Di kota-kota Amerika Utara, rakun dikenal sangat cerdas. Mereka memanfaatkan tempat sampah, garasi, dan atap rumah sebagai sumber makanan. Aktivitas mereka umumnya terjadi pada malam hari, menunjukkan kemampuan luar biasa dalam menghindari lalu lintas dan keramaian.
Sementara itu, di berbagai kota Eropa, rubah perkotaan telah mengalami perubahan perilaku selama puluhan tahun. Mereka menjadi lebih tenang, lebih toleran terhadap kehadiran manusia, dan menunjukkan tingkat adaptasi sosial yang tinggi.
Tidak hanya hewan darat, satwa air juga menunjukkan kebangkitan di kota. Di Singapura, berang-berang kembali menghuni sungai dan saluran air di pusat kota setelah upaya pemulihan lingkungan dilakukan secara konsisten. Mereka kini bergerak bebas di antara taman, jalur air, dan kawasan urban padat, menjadi bukti nyata bahwa ekosistem kota yang sehat mampu mendukung kehidupan liar.
Meski menarik, hidup berdampingan dengan satwa liar tidak selalu mudah. Rakun bisa masuk ke rumah, beberapa hewan mengganggu kebun, dan kehadiran satwa tertentu dapat menimbulkan kekhawatiran bagi keselamatan manusia. Oleh karena itu, banyak kota membentuk layanan khusus untuk menangani kasus satwa liar secara profesional.
Dalam beberapa situasi, pemindahan hewan memang diperlukan. Namun, dalam kasus lain, membiarkan mereka tetap di habitatnya dengan pengawasan yang tepat justru lebih bijak. Pemerintah, organisasi lingkungan, dan komunitas lokal bekerja sama untuk menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian satwa.
Bahkan sektor industri pun mulai memperhatikan fenomena ini. Data kecelakaan lalu lintas akibat satwa yang menyeberang jalan mendorong perencana kota memasang pagar pengaman dan rambu peringatan di area tertentu.
Kota yang memberi ruang bagi satwa liar justru membawa manfaat besar bagi manusia. Koridor hijau, lahan basah yang dilestarikan, dan hutan kota memungkinkan pergerakan satwa dengan aman. Di saat yang sama, ruang hijau ini meningkatkan kualitas udara, menurunkan suhu, dan mendukung kesehatan mental warga.
Satwa liar juga berperan sebagai indikator alami kesehatan lingkungan. Kehadiran kunang-kunang atau burung pemakan ikan menandakan air dan tanah yang bersih. Sebaliknya, hilangnya serangga tertentu bisa menjadi peringatan dini adanya pencemaran atau penggunaan bahan kimia berlebihan. Dari sini, Kami belajar menilai dampak aktivitas manusia terhadap alam sekitar.
Dari satwa liar, Kami dapat belajar tentang ketahanan, kecerdikan, dan kemampuan beradaptasi. Spesies yang mampu hidup berdampingan dengan manusia menunjukkan bahwa kerja sama dan fleksibilitas adalah kunci bertahan hidup di dunia yang terus berubah.
Dengan merancang kota yang ramah satwa, Kami sebenarnya sedang membangun lingkungan yang lebih sehat bagi manusia. Atap hijau, taman yang saling terhubung, dan sungai yang terbuka bukan sekadar hiasan kota, melainkan infrastruktur penting yang menopang kehidupan banyak spesies.
Fenomena satwa liar perkotaan bukan hanya sesuatu yang Kami amati dari kejauhan. Mereka adalah bagian dari dinamika kota modern yang hidup, tangguh, dan penuh energi. Dengan memahami kebiasaan mereka, menghormati ruang hidupnya, serta menjaga habitat yang tersisa, Kami membantu menciptakan kota yang lebih bermakna.
Saat Anda melihat rakun melintas di halaman atau berang-berang berenang tenang di sungai kota, berhentilah sejenak. Momen itu adalah bukti luar biasa bahwa manusia dan alam dapat berbagi ruang dengan harmonis. Bersama, Kita bisa membangun kota tempat manusia dan satwa liar tidak hanya hidup berdampingan, tetapi saling melengkapi secara indah.