Mari kita melangkah bersama ke dalam kehidupan empat saudari March, Lykkers.
Berlatar di New England abad ke-19, kisah ini membawa Kami menyusuri hari-hari sederhana namun penuh makna dari sebuah keluarga yang harus belajar bertahan, tumbuh, dan saling menguatkan.
Ketika sang ayah harus meninggalkan rumah untuk menjalankan tugas pentingnya, ibu mereka menjadi pusat kehangatan, sementara keempat putrinya belajar menghadapi hidup dengan cara mereka masing-masing. Dari tawa kecil hingga air mata yang tertahan, ikatan keluarga ini perlahan membentuk perempuan-perempuan tangguh dengan kepribadian yang berbeda, tetapi saling melengkapi.
Josephine atau Jo March digambarkan sebagai sosok yang berani, penuh semangat, dan tak pernah lelah mengejar impian. Kami mengikuti perjalanannya saat ia mencoba peruntungan di New York City dengan harapan tulisannya dapat diterbitkan. Jo memiliki bakat besar, tetapi ia juga harus menerima kritik jujur dari Friedrich Bhaer, seorang guru yang menghargai kecerdasannya namun menantangnya untuk menulis dengan hati yang lebih dalam. Kritik itu menyakitkan, namun justru menjadi titik balik yang mendorong Jo berkembang.
Sementara itu, Amy March tinggal bersama bibi mereka di Paris. Di sana, ia kembali bertemu Theodore "Laurie" Laurence, sahabat masa kecil mereka. Amy mengundang Laurie ke sebuah pesta awal tahun, tetapi sikap Laurie yang terkadang ceroboh membuat Amy merasa kesal. Momen-momen kecil ini memperlihatkan bahwa hubungan antarmanusia tidak selalu berjalan mulus, bahkan di antara mereka yang saling peduli.
Kehidupan keluarga March berubah drastis ketika Jo menerima kabar bahwa Beth, adik bungsu mereka, jatuh sakit parah. Kami ikut merasakan kepanikan dan cinta yang menyatu saat Jo bergegas pulang. Dari sinilah alur cerita membawa Kami ke berbagai kilas balik yang mengungkap kenangan, kebersamaan, dan peristiwa penting yang membentuk hubungan mereka sejak awal.
Dalam suasana cuaca dingin di Concord, Massachusetts, Jo dan Meg menghadiri sebuah pertemuan sosial yang mempertemukan mereka dengan Laurie. Tergerak oleh kebaikan sang ibu, para saudari ini memilih berbagi makanan dengan tetangga mereka yang kurang beruntung. Setibanya di rumah, kejutan hangat menanti, berupa perhatian tulus dari tetangga dan kabar dari sang ayah yang jauh dari rumah. Kejadian ini menegaskan bahwa kepedulian kecil dapat menghadirkan kehangatan besar dalam kehidupan.
Ketegangan memuncak ketika Amy, diliputi rasa cemburu, merusak naskah tulisan Jo. Amarah dan kekecewaan menyelimuti hubungan mereka, namun perlahan digantikan oleh proses saling memahami. Amy mencoba menebus kesalahannya, dan sebuah kejadian berbahaya di danau beku hampir merenggut keselamatannya. Berkat bantuan Laurie, Amy terselamatkan. Malam itu, Jo merenungkan arti tanggung jawab dan pengendalian diri, sementara kelembutan Beth berhasil meluluhkan hati Mr. Laurence yang kesepian.
Laurie berusaha meminta maaf pada Amy dan mengungkapkan perasaannya, tetapi Amy masih diliputi kebimbangan karena kekagumannya pada Jo di masa lalu. Di sisi lain, Jo memilih tetap tinggal di rumah untuk merawat Beth dan menghabiskan waktu di tepi laut, tempat penuh kenangan masa kecil. Beth, meski menyadari kondisi kesehatannya, justru memberi dorongan pada Jo untuk terus menulis dan mengejar mimpinya. Dari sini, Kami melihat keteguhan hati yang lahir dari kasih sayang.
Ketika sang ibu harus pergi untuk merawat suaminya, Beth menerima sebuah piano sebagai bentuk perhatian yang tulus. Namun, kondisi kesehatannya kembali menurun setelah ia membantu keluarga lain. Demi menjaga keseimbangan, Amy dikirim ke Paris agar tetap aman. Setelah masa-masa menegangkan, Beth sempat membaik menjelang akhir tahun, dan kepulangan sang ayah membawa kelegaan serta kebahagiaan bagi seluruh keluarga.
Seiring waktu, kesehatan Beth menurun secara perlahan hingga tak dapat dipulihkan. Kami menyaksikan duka yang sunyi namun mendalam, serta kekuatan keluarga March dalam saling menopang. Kehilangan ini mengajarkan bahwa cinta tidak pernah benar-benar pergi, melainkan berubah menjadi kenangan yang menguatkan.
Pada hari pernikahan Meg, Jo sempat mencoba membujuk kakaknya untuk membatalkan keputusan itu, tetapi Meg memilih jalannya sendiri. Amy kembali ke Eropa, sementara Laurie menyatakan cintanya pada Jo. Dengan jujur, Jo menolak, karena saat itu ia memilih kebebasan dan kemandirian. Keputusan-keputusan ini mencerminkan kesadaran diri yang semakin matang.
Amy dan Laurie akhirnya menikah dan kembali ke rumah, memperlihatkan bahwa persahabatan dan cinta dapat tumbuh seiring waktu. Jo menuangkan seluruh pengalamannya ke dalam sebuah novel yang terinspirasi dari keluarganya. Ia memperjuangkan penerbitannya, merayakan keberhasilannya, dan mengenang Beth dengan penuh cinta. Bersama, Kami melihat para saudari March menyambut hidup dengan keberanian, ketulusan, dan persatuan.
Mengikuti perjalanan saudari March mengingatkan Kami bahwa momen biasa dapat menjadi luar biasa ketika dijalani bersama orang-orang terkasih. Kisah ini mendorong Anda untuk menghargai keluarga, berani bermimpi, dan memeluk setiap proses kehidupan. Dalam cerita ini, Kami belajar bahwa cinta, ketekunan, dan kebersamaan mampu mengubah hidup dengan cara yang tak pernah terduga.