Selama berabad-abad, manusia telah mencari kenyamanan dan kebahagiaan melalui kehadiran hewan.
Namun, penelitian modern kini membuktikan bahwa hewan tidak hanya menjadi teman, tetapi juga bisa memainkan peran penting dalam terapi, khususnya bagi anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) dan orang yang menghadapi kecemasan.
Memahami bagaimana hewan berkontribusi pada kesejahteraan emosional dan kognitif membuka wawasan tentang ikatan mendalam antara manusia dan dunia hewan.
Terapi yang dibantu hewan atau Animal-Assisted Therapy (AAT) adalah intervensi terstruktur yang mengintegrasikan hewan ke dalam program terapi untuk meningkatkan kesehatan fisik, emosional, dan sosial. Terapi ini memanfaatkan interaksi alami antara manusia dan hewan yang dapat mengurangi stres, mendorong komunikasi, dan menciptakan rasa aman.
Manfaat Fisiologis:
Berdasarkan penelitian, berinteraksi dengan hewan dapat menurunkan kadar kortisol, menurunkan tekanan darah, dan meningkatkan pelepasan oksitosin—hormon yang dikenal sebagai "hormon ikatan" yang membantu relaksasi dan pengaturan emosi.
Dukungan Emosional:
Hewan memberikan teman yang tidak menghakimi, membuat individu merasa diterima dan aman. Hal ini sangat berarti bagi anak-anak dengan ASD, yang mungkin kesulitan memahami isyarat sosial, maupun bagi orang dengan gangguan kecemasan yang mudah merasa khawatir atau panik.
Keterlibatan Perilaku:
Bekerja dengan hewan juga mendorong fokus, kesabaran, dan penyelesaian tugas. Aktivitas terstruktur seperti merawat, memberi makan, atau mengamati hewan dapat membantu membangun rutinitas dan memperkuat perilaku positif.
Maggie O’Haire, seorang Associate Professor dalam bidang Interaksi Manusia-Hewan, menyatakan, "Hewan dapat memberikan bentuk dukungan sosial yang unik yang membantu mengurangi efek fisiologis dan psikologis dari stres."
Anak-anak dengan autisme sering menghadapi tantangan dalam interaksi sosial, komunikasi, dan regulasi emosi. Hewan dapat menjadi katalis sosial yang mempermudah anak-anak ini untuk berinteraksi dengan orang lain dan mengembangkan keterampilan penting.
Komunikasi Nonverbal:
Anak-anak sering merespons bahasa tubuh, suara, dan kehadiran hewan lebih mudah daripada manusia. Hal ini menjadi jembatan untuk melatih isyarat, kontak mata, dan pengenalan emosi.
Mengurangi Sensasi Berlebihan:
Banyak anak dengan ASD memiliki sensitivitas sensorik. Hewan dengan perilaku tenang dan dapat diprediksi memberikan kehadiran yang menenangkan, mengurangi stres dan stimulasi berlebih.
Meningkatkan Motivasi Sosial:
Merawat hewan atau mengikuti aktivitas terarah dapat meningkatkan motivasi anak untuk berinteraksi, mengikuti instruksi, dan berpartisipasi dalam sesi terapi.
Gangguan kecemasan ditandai oleh kekhawatiran berlebihan, ketegangan, dan kadang gejala fisik seperti detak jantung cepat atau ketegangan otot. Hewan dapat membantu mengurangi gejala tersebut melalui dukungan emosional dan perilaku.
Mendorong Relaksasi:
Hanya dengan mengamati atau menyentuh hewan, pernapasan dan detak jantung bisa melambat, memberikan efek menenangkan pada saat cemas.
Memberikan Konsistensi dan Prediktabilitas:
Hewan mengikuti rutinitas yang dapat diprediksi. Berinteraksi dengan mereka memberikan rasa stabilitas yang menenangkan bagi mereka yang mengalami kecemasan.
Mendorong Kesadaran Saat Ini:
Hewan hidup sepenuhnya di saat ini, dan menghabiskan waktu bersama mereka mendorong individu untuk fokus pada momen sekarang, mengurangi pikiran berulang dan kekhawatiran.
Penelitian ilmiah mulai menjelaskan mengapa interaksi manusia-hewan sangat efektif. Selain regulasi oksitosin dan kortisol, berinteraksi dengan hewan dapat meningkatkan kadar dopamin dan serotonin, neurotransmitter yang berperan penting dalam regulasi suasana hati dan rasa senang.
Perkembangan Otak dan Kognisi Sosial:
Bagi anak-anak dengan autisme, interaksi positif yang berulang dengan hewan dapat memperkuat jalur saraf yang terkait dengan empati, pemahaman sosial, dan komunikasi.
Ketahanan Emosional:
Bagi penderita kecemasan, ikatan dengan hewan membantu memperkuat mekanisme koping, melatih kesabaran, pemecahan masalah, dan pengelolaan stres dalam lingkungan yang aman dan tanpa tekanan.
Hewan bukan sekadar teman, mereka adalah mitra terapi yang kuat. Dengan membantu mengurangi stres, meningkatkan regulasi emosi, dan mendorong keterampilan sosial, hewan dapat membawa dampak positif besar bagi kehidupan anak-anak dengan autisme dan orang yang hidup dengan kecemasan. Ikatan emosional yang terbentuk antara manusia dan hewan menunjukkan kemampuan unik hewan dalam memberikan kenyamanan, dukungan, dan stabilitas.
Memahami dan menerapkan terapi yang dibantu hewan menawarkan pendekatan alami berbasis bukti untuk meningkatkan kesejahteraan, sekaligus menunjukkan bagaimana manusia dan hewan bisa saling menyembuhkan bersama.