Di dalam tubuh Anda, terdapat dunia yang sangat menakjubkan, triliunan mikroorganisme yang bekerja diam-diam untuk menjaga kesehatan, keseimbangan, dan energi Anda.
Komunitas ini dikenal dengan sebutan mikrobioma usus, dan memiliki peran yang jauh lebih besar dari yang Anda bayangkan. Mikroba-mikroba ini memengaruhi pencernaan, kekebalan tubuh, tingkat energi, bahkan suasana hati Anda.
Ketika keseimbangan bakteri baik terjaga, seluruh sistem tubuh Anda akan berkembang dengan baik. Di sinilah peran probiotik masuk, bakteri baik yang membantu memulihkan dan mempertahankan keseimbangan tersebut. Dalam panduan ini, Anda akan mempelajari bagaimana probiotik mendukung kesehatan usus, makanan apa yang memberikan manfaat terbaik, dan bagaimana cara memilih suplemen yang tepat bila diperlukan.
Anda mungkin sudah mengetahui bahwa probiotik adalah "bakteri baik," tetapi manfaatnya jauh lebih besar dari sekadar pencernaan. Mikroorganisme hidup ini bekerja untuk menjaga ekosistem usus Anda tetap beragam dan tahan banting, seperti tukang kebun yang merawat taman yang sedang berkembang dengan baik.
Probiotik mendukung saluran pencernaan Anda dengan membantu memecah makanan, menyerap nutrisi, dan menghalangi pertumbuhan bakteri berbahaya. Mikrobioma yang seimbang juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan mengurangi peradangan. Menurut peneliti mikrobioma Dr. Eran Elinav, mikrobiota usus dan oleh karena itu probiotik yang membantu mengaturnya, memainkan peran penting dalam mengatur fungsi kekebalan tubuh, membantu mempertahankan keseimbangan kekebalan, dan mendukung pertahanan tubuh.
Probiotik juga membantu memproduksi senyawa penting seperti asam lemak rantai pendek yang menyehatkan sel-sel yang melapisi usus. Ketika sel-sel ini sehat, mereka menciptakan penghalang pelindung yang mencegah racun masuk ke dalam aliran darah.
Bakteri di dalam usus Anda "memakan" apa yang Anda makan, artinya setiap makanan yang Anda konsumsi mempengaruhi keseimbangan antara mikroba baik dan jahat. Pola makan yang kaya akan serat, makanan fermentasi, dan bahan nabati membantu bakteri baik berkembang. Sebaliknya, terlalu banyak makanan olahan atau gula dapat mengurangi keragaman mikroba yang membuat tubuh lebih rentan terhadap ketidakseimbangan.
Dr. Will Bulsiewicz, seorang ahli gastroenterologi asal Amerika dan penulis yang terkenal dengan karya-karyanya tentang mikrobioma usus, menjelaskan bahwa makanan yang Anda konsumsi membantu membentuk komunitas bakteri usus. Bakteri baik "tumbuh subur pada makanan nabati yang kaya serat dan makanan fermentasi," yang memberikan nutrisi dan membantu meningkatkan keragaman mikroba, sementara makanan olahan yang tinggi gula dikaitkan dengan ketidakseimbangan mikroba usus dan peradangan.
Perasaan kembung, sering merasa lelah, atau masalah pencernaan yang tidak teratur bisa menjadi tanda bahwa ekosistem usus Anda tidak seimbang. Stres dan penggunaan antibiotik juga dapat mengganggu flora usus, itulah sebabnya menambah bakteri baik melalui makanan atau suplemen bisa memberikan dampak positif. Bahkan kebiasaan kecil sehari-hari, seperti mengonsumsi camilan yang kaya probiotik, bisa membantu memulihkan keseimbangan alami tersebut.
Setelah Anda memahami betapa pentingnya probiotik, langkah selanjutnya adalah menjadikannya bagian dari gaya hidup sehari-hari Anda. Anda tidak perlu melakukan perubahan besar dalam pola makan, cukup dengan beberapa pilihan yang bijak, usus Anda dapat tetap sehat dan aktif.
Mulailah dengan makanan yang secara alami mengandung kultur hidup. Yogurt adalah salah satu sumber yang paling dikenal, pastikan Anda memilih yang bertuliskan "kultur hidup dan aktif" di labelnya. Pilihan hebat lainnya termasuk kefir, kimchi, sauerkraut, miso, dan beberapa jenis keju lunak. Makanan-makanan ini memperkenalkan bakteri baik yang membantu pencernaan dan mendukung penyerapan nutrisi.
Menyandingkan makanan probiotik dengan bahan-bahan prebiotik (makanan untuk bakteri baik) akan membuatnya lebih efektif. Pisang, gandum, bawang putih, bawang bombay, dan asparagus adalah pilihan prebiotik yang sangat baik untuk membantu probiotik berkembang di dalam usus Anda.
Jika produk susu bukan bagian dari diet Anda, jangan khawatir! Ada banyak alternatif nabati berbasis kelapa atau almond yang tetap mengandung kultur hidup. Yang paling penting adalah konsistensi, mengonsumsi sedikit setiap hari lebih baik daripada makan dalam jumlah besar sesekali.
Bagi sebagian orang, terutama setelah mengonsumsi antibiotik atau mengalami gangguan pencernaan, suplemen probiotik dapat membantu memulihkan keseimbangan lebih cepat. Pilih produk yang mengandung strain yang sudah banyak diteliti, seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium, yang dikenal memiliki manfaat untuk pencernaan dan sistem kekebalan tubuh.
Dr. Megan Rossi, seorang ahli diet terdaftar dan peneliti mikrobioma yang terkenal dengan julukan "The Gut Health Doctor," menekankan bahwa pemilihan strain probiotik yang tepat sangat penting untuk mendukung pemulihan setelah gangguan mikrobioma, seperti yang terjadi setelah penggunaan antibiotik. Penelitian menunjukkan bahwa probiotik, terutama strain Lactobacillus dan Bifidobacterium, telah terbukti membantu mencegah diare akibat antibiotik dan mendukung keseimbangan mikrobiota usus bila digunakan dengan tepat.
Jika Anda baru pertama kali mencoba suplemen, mulailah dengan dosis yang moderat dan perhatikan bagaimana tubuh Anda merespons dalam beberapa minggu. Ingatlah bahwa suplemen akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan diet seimbang dan hidrasi yang cukup.
Usus Anda berkembang lebih baik dengan stabilitas, jadi cobalah untuk makan pada waktu yang teratur, mengelola stres, dan tetap aktif. Aktivitas fisik, bahkan jalan kaki ringan, membantu sistem pencernaan Anda bekerja dengan lancar. Anda juga bisa mencoba latihan mindfulness atau teknik pernapasan dalam, karena stres dapat langsung mempengaruhi keseimbangan bakteri usus.
Usus Anda ibarat "otak kedua" selalu berkomunikasi, beradaptasi, dan mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Mendukungnya dengan probiotik bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang perawatan harian. Penelitian menunjukkan bahwa usus dan otak saling terhubung melalui gut-brain axis, di mana mikroba usus mempengaruhi suasana hati, respons terhadap stres, bahkan produksi neurotransmiter. Probiotik dan diet kaya serat serta makanan fermentasi dapat mendukung keseimbangan mikrobioma, yang pada gilirannya dapat berkontribusi pada pencernaan yang lebih baik, fungsi kekebalan tubuh yang lebih kuat, dan kesejahteraan secara keseluruhan.