Bayangkan berdiri di dataran tinggi berbatu yang terasa seperti dunia lain.
Di sanalah pohon darah naga tumbuh, dengan batang pucat, mahkota menyerupai payung raksasa, dan getah merah pekat yang membuatnya tampak seperti legenda hidup.
Pohon endemik Pulau Socotra ini bukan sekadar tanaman unik, melainkan penyangga ekosistem yang sangat penting. Artikel ini mengajak Anda menyelami mengapa pohon ini begitu berharga, mengapa populasinya terus menurun, dan bagaimana masyarakat setempat berjuang untuk memulihkannya.
Socotra, sebuah pulau di wilayah Yaman, dikenal sebagai surga keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisme yang sangat tinggi. Di antara berbagai tumbuhan langka, pohon darah naga menempati posisi istimewa. Di dataran tinggi seperti Diksam dan Firmhin, siluetnya membentuk garis langit yang khas. Bagi warga setempat, pohon ini adalah simbol identitas, sumber kebanggaan, dan bagian dari hubungan panjang antara manusia dan alam.
Dalam dunia botani, pohon darah naga dikenal sebagai Dracaena cinnabari, bagian dari kelompok tanaman Dracaena dalam keluarga asparagus. Ciri paling menonjol adalah arsitekturnya yang tidak biasa. Cabang-cabang tebal tumbuh ke atas lalu bercabang rapat membentuk kipas, menciptakan mahkota datar yang lebar. Bentuk ini membantu mengurangi penguapan air dan melindungi daun dari paparan matahari yang ekstrem.
Nama "darah naga" berasal dari getah merah cerah yang keluar ketika kulit atau kayu pohon terluka. Setelah mengering, getah ini dapat diolah menjadi bubuk yang digunakan sebagai pigmen, bahan pelapis, dan salep tradisional untuk berbagai keperluan budaya. Di Socotra, pemanenan dilakukan dengan hati-hati. Namun, pemotongan berulang pada pohon tua dapat meninggalkan luka permanen dan melemahkan strukturnya.
Pohon darah naga bukan hanya pemberi naungan. Mahkotanya berfungsi seperti jaring penangkap kabut. Saat kabut dan awan rendah menyelimuti dataran tinggi, tetesan air tertangkap di daun, mengembun, lalu menetes ke tanah. Proses ini dikenal sebagai penangkapan presipitasi horizontal dan sangat penting di wilayah dengan curah hujan yang tidak menentu.
Para ahli konservasi menegaskan bahwa kehilangan satu pohon dewasa berarti kehilangan sumber air alami yang berharga. Mahkota pohon bekerja seperti corong, menyalurkan air ke tanah, menjaga kelembapan, dan membantu kestabilan tanah berbatu. Dalam sistem kering seperti Socotra, peran ini bisa menentukan keberlangsungan tumbuhan lain di sekitarnya.
Pohon darah naga sering disebut sebagai spesies payung. Di bawah naungannya, suhu lebih sejuk dan tanah mempertahankan kelembapan lebih lama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tumbuhan bawah lebih sering ditemukan di sekitar pohon ini dibandingkan area terbuka. Dengan kata lain, satu pohon dapat menciptakan mikrohabitat yang mendukung kehidupan lain.
Meski di beberapa dataran jumlah pohon dewasa masih terlihat banyak, tanda-tanda penurunan jelas terlihat. Batang tumbang, cabang patah, dan sisa pohon mati tersebar di lanskap. Para peneliti memperingatkan bahwa tanpa regenerasi yang kuat, masa depan hutan ini mengkhawatirkan karena pohon tua mati sementara pengganti mudanya sangat sedikit.
Salah satu tantangan terbesar adalah laju pertumbuhan yang lambat. Pohon darah naga hanya bertambah beberapa sentimeter dalam beberapa tahun. Bibit kecil yang tampak seperti semak berduri hari ini bisa membutuhkan puluhan tahun untuk membentuk mahkota khasnya. Karena itu, upaya konservasi harus berpikir dalam jangka panjang.
Hewan ternak yang merumput bebas sering memakan tunas muda, membuat bibit sulit tumbuh. Banyak area menunjukkan struktur hutan yang "menua", dipenuhi pohon tua tanpa generasi penerus. Namun, area yang dilindungi pagar menunjukkan hasil berbeda, dengan lebih banyak bibit yang berhasil bertahan.
Angin kencang dan hujan lebat mendadak dapat merobohkan pohon berusia ratusan tahun, terutama di tanah dangkal berbatu. Karena regenerasi sangat lambat, setiap kehilangan menjadi sangat berarti, dan setiap bibit yang selamat menjadi harapan masa depan.
Untuk melindungi yang tersisa, tim lokal bekerja sama dengan peneliti menggunakan pemetaan berbasis ponsel. Setiap pohon dicatat kondisinya, menciptakan data dasar untuk pemantauan jangka panjang. Informasi ini membantu menentukan lokasi restorasi dan prioritas perlindungan.
Di Diksam, persemaian yang dikelola masyarakat menjadi garis depan penyelamatan. Bibit dirawat di balik pagar sederhana hingga cukup kuat untuk ditanam di alam bebas. Keluarga-keluarga setempat rutin memeriksa dan memperbaiki perlindungan agar tanaman muda tetap aman.
Restorasi bukan sekadar menanam. Pemilihan lokasi dengan kabut yang konsisten, tanah yang sesuai, dan tekanan penggembalaan rendah sangat penting. Bibit dari persemaian dipindahkan saat ukurannya cukup aman. Tujuannya membangun kembali hutan dengan keseimbangan usia antara pohon tua dan muda.
Kami belajar bahwa menyelamatkan pohon darah naga berarti memahami keunikannya: mahkota penangkap kabut, pertumbuhan lambat, dan pengaruh besar terhadap lingkungan. Melalui persemaian komunitas, pemantauan cermat, dan perlindungan yang tepat, harapan pemulihan tetap ada meski membutuhkan waktu panjang. Menurut Anda, apa yang harus diprioritaskan terlebih dahulu untuk melindungi spesies langka seperti ini: penguatan pagar, perluasan penanaman, atau pelatihan masyarakat yang lebih mendalam?