Pernahkah Anda membayangkan melihat seekor ikan mas raksasa berdiri megah di atas mobil Rolls-Royce di sebuah hotel mewah?


Pemandangan unik tersebut bukan sekadar dekorasi biasa, melainkan bagian dari karya seni luar biasa yang berhasil mencuri perhatian para pengunjung The Peninsula Hong Kong, Tiongkok.


Melalui program tahunan Art in Resonance, hotel ikonik ini kembali menghadirkan pengalaman seni yang berbeda dengan menghadirkan karya-karya kreatif yang dirancang khusus untuk menyatu dengan ruang arsitektur di sekitarnya.


Art in Resonance merupakan sebuah program yang mengundang para seniman untuk menciptakan karya seni khusus sesuai dengan karakter ruang tertentu. Dalam edisi terbaru ini, tiga seniman berbakat yaitu Angel Hui, Albert Yonathan Setyawan, dan William Lim menghadirkan karya yang mampu mengubah area hotel menjadi ruang penuh kejutan, eksplorasi, dan pengalaman visual yang mendalam.


Mulai dari periode Hong Kong Art Week hingga awal Mei, berbagai instalasi tersebut menghiasi area hotel dan membawa pengunjung memasuki dunia seni yang berbeda. Setiap karya tidak hanya berfungsi sebagai objek untuk dilihat, tetapi juga mengajak pengunjung berinteraksi dan merasakan hubungan antara seni, budaya, serta lingkungan sekitar.


Ikan Mas Berwarna Cerah yang Menghidupkan Ruang Hotel


Salah satu karya yang paling menarik perhatian adalah Swimming in Light karya Angel Hui. Instalasi ini terinspirasi dari budaya kota Hong Kong yang terkenal dengan ikan mas yang sering dijual dalam kantong plastik transparan. Bagi Hui, objek sederhana tersebut memiliki daya tarik visual yang kuat karena menggabungkan warna cerah, gerakan, dan simbol kehidupan perkotaan.


Dengan bantuan para pengrajin terampil, Hui menciptakan gambaran ikan mas melalui teknik sulaman pada permukaan kantong plastik. Karya tersebut kemudian dikembangkan lebih luas hingga menghiasi bagian kaca bangunan dan area kanopi bersejarah hotel.


Perpaduan warna cerah dari ikan-ikan tersebut menciptakan kontras menarik dengan tampilan luar hotel yang elegan dan klasik. Hasilnya adalah sebuah pemandangan yang terasa menyenangkan sekaligus penuh makna. Instalasi ini seolah mengingatkan pengunjung bahwa keindahan dapat ditemukan dari benda-benda sederhana yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.


Seni Keramik yang Mengubah Cara Melihat Ruang


Di bagian lobi hotel, seniman Albert Yonathan Setyawan menghadirkan karya berjudul Metamorphic Modulation. Instalasi ini menampilkan sekitar 700 elemen keramik kecil berbentuk daun dan bunga yang dibuat satu per satu menggunakan teknik cetak tanah liat.


Setiap elemen keramik dibiarkan tanpa lapisan akhir sehingga menampilkan karakter alami materialnya. Karya ini ditempatkan dalam struktur berbentuk lingkaran semi tertutup yang membuat pengunjung merasa memasuki sebuah ruang khusus di dalam ruang yang lebih besar.


Menurut Setyawan, pengulangan bentuk dan keseimbangan dalam proses pembuatan karya dapat menciptakan rasa keteraturan dalam kehidupan. Proses membuat ratusan elemen kecil secara berulang di studio kecilnya di Tokyo kemudian diterjemahkan menjadi instalasi besar yang memiliki nilai artistik tinggi.


Melalui susunan ribuan detail kecil yang harmonis, Setyawan berhasil mengaburkan batas antara seni kerajinan dan karya monumental. Pengunjung tidak hanya melihat sebuah objek seni, tetapi juga merasakan suasana tenang yang muncul dari pola, ritme, dan keseimbangan visual.


Karya ini juga menjadi bagian dari kolaborasi berkelanjutan bersama Victoria and Albert Museum (V&A) dan direncanakan untuk dipamerkan di London dengan penyesuaian terhadap lingkungan arsitektur yang baru.


Ketika Seni Tekstil Bertemu Dengan Dunia Arsitektur


Karya ketiga dalam program ini adalah Walking on a Bright Future hasil kreasi William Lim, seorang arsitek, seniman, dan kolektor asal Hong Kong. Instalasi ini dipasang di area The Verandah Café dengan menggabungkan unsur lukisan, tekstil, serta desain ruang.


Lim mengubah salah satu lukisannya menjadi permadani dinding buatan tangan melalui kerja sama dengan para pengrajin dari Tai Ping Carpets. Tidak berhenti pada dinding, desain tersebut juga diteruskan ke bagian lantai dengan pola kotak-kotak yang mengalami distorsi visual.


Efek tersebut membuat pengunjung merasa menjadi bagian dari karya seni. Mereka tidak hanya berdiri sebagai penonton, tetapi dapat bergerak melewati ruang yang telah dirancang sebagai pengalaman artistik. Karya ini memperlihatkan bagaimana seni dapat menyatu dengan arsitektur dan menciptakan hubungan baru antara manusia dengan ruang yang mereka tempati.


Seni yang Menghadirkan Kejutan di Tempat Biasa


Ketiga karya dalam Art in Resonance berhasil mengubah area hotel yang biasanya digunakan sebagai tempat aktivitas sehari-hari menjadi ruang penuh imajinasi. Instalasi tersebut membuktikan bahwa seni memiliki kemampuan untuk memberikan pengalaman baru bahkan di tempat yang sudah dikenal banyak orang.


Melalui permainan ukuran, material, warna, dan konsep ruang, para seniman menghadirkan cara berbeda dalam menikmati sebuah lingkungan. Hotel tidak lagi hanya menjadi tempat menginap, tetapi berubah menjadi galeri hidup yang mengundang rasa penasaran dan kekaguman.


Program ini menunjukkan bahwa karya seni dapat memberikan energi baru kepada sebuah tempat. Dengan keberanian mengeksplorasi ide kreatif, ruang yang sebelumnya terlihat biasa dapat berubah menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.


Art in Resonance menjadi bukti bahwa seni memiliki kekuatan untuk menghadirkan kejutan, membangun koneksi emosional, dan membuat setiap sudut ruang memiliki cerita tersendiri. Melalui karya-karya inovatif ini, pengunjung diajak melihat dunia dari sudut pandang baru bahwa keindahan bisa muncul ketika kreativitas bertemu dengan keberanian untuk berimajinasi.