Mars hari ini tampak seperti dunia yang tandus, dingin, dan hampir tanpa kehidupan. Permukaannya didominasi debu, batuan, kawah, serta dataran luas yang terlihat sangat kering.
Namun, pemandangan tersebut ternyata menyimpan kisah yang jauh lebih mengejutkan. Jauh di masa lalu, Planet Merah kemungkinan memiliki lingkungan yang jauh lebih basah daripada sekarang.
Jejak air kuno masih tertinggal di berbagai bagian Mars. Lembah bercabang, cekungan danau, saluran aliran, serta delta yang terbentuk dari endapan sedimen menjadi petunjuk bahwa air pernah mengalir dan membentuk permukaannya. Pertanyaannya kemudian menjadi semakin menarik: jika Mars dahulu memiliki begitu banyak air, ke mana semuanya pergi?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana air yang menghilang begitu saja. Selama miliaran tahun, air Mars mengalami perjalanan panjang. Sebagian perlahan terlepas ke luar angkasa, sebagian membeku menjadi es, sebagian berpindah ke bawah permukaan, dan sebagian lainnya terperangkap secara kimiawi di dalam mineral.
Salah satu alasan para ilmuwan yakin bahwa Mars pernah memiliki air dalam jumlah berarti adalah bentuk permukaannya. Beberapa lembah di Mars memiliki pola bercabang yang menyerupai jaringan sungai. Struktur semacam ini sulit dijelaskan tanpa melibatkan aktivitas air dalam jumlah besar pada masa lalu.
Di beberapa lokasi, para ilmuwan juga menemukan cekungan yang diduga pernah menjadi danau. Delta yang kaya endapan semakin memperkuat dugaan bahwa air pernah mengalir menuju wilayah tersebut dan membawa material dari tempat lain.
Namun, kondisi Mars pada masa lalu kemungkinan tidak selalu sama. Tidak semua wilayah mengalami kondisi basah pada waktu yang bersamaan. Ada kawasan yang mungkin memiliki air untuk periode tertentu, sementara daerah lain mengalami kondisi yang jauh lebih kering.
Seiring waktu, lingkungan permukaan Mars berubah. Air cair semakin sulit bertahan dalam jangka panjang. Sebagian air kemudian tersimpan dalam bentuk es, bergerak ke bawah tanah, atau bereaksi dengan batuan dan masuk ke dalam struktur mineral.
Salah satu bagian penting dalam kisah hilangnya air Mars adalah atmosfer. Planet ini diyakini pernah memiliki atmosfer yang jauh lebih tebal dibandingkan kondisi sekarang. Atmosfer yang lebih padat membantu menciptakan tekanan permukaan yang lebih tinggi dan membuat air cair lebih mudah bertahan.
Tetapi atmosfer Mars perlahan kehilangan materialnya selama rentang waktu geologis yang sangat panjang. Ketika atmosfer semakin tipis, tekanan permukaan ikut menurun. Kondisi tersebut membuat keberadaan air cair di permukaan menjadi semakin sulit.
Air yang berada di permukaan dapat membeku atau berpindah ke bawah tanah. Sebagian air juga berubah menjadi uap dan mencapai lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Di sana, radiasi ultraviolet dari Matahari dapat memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.
Hidrogen menjadi sangat penting dalam proses ini karena massanya sangat ringan. Partikel tersebut lebih mudah mencapai kondisi yang memungkinkan dirinya terlepas dari gravitasi Mars dan akhirnya menghilang ke ruang angkasa.
Mars mungkin terlihat kering, tetapi itu tidak berarti seluruh airnya telah meninggalkan planet tersebut. Sebagian besar kisah air Mars justru tersembunyi di bawah permukaan atau berada dalam bentuk yang tidak langsung terlihat.
Es bawah tanah merupakan salah satu reservoir air yang penting. Di wilayah tertentu, air dapat bertahan sebagai endapan es di bawah permukaan. Air juga dapat tersimpan di lingkungan bawah tanah atau mengalami interaksi dengan batuan.
Interaksi antara air dan mineral bahkan dapat mengubah struktur kimia batuan. Dengan mempelajari mineral yang terbentuk melalui proses tersebut, para ilmuwan dapat memperoleh petunjuk tentang kondisi lingkungan Mars pada masa lalu.
Artinya, permukaan Mars yang tampak sangat kering hanya menunjukkan sebagian kecil dari keseluruhan cerita. Airnya tidak memiliki satu tujuan akhir. Ada yang pergi ke luar angkasa, ada yang membeku, ada yang tersembunyi di bawah tanah, dan ada yang terkunci dalam mineral.
Sejarah medan magnet Mars juga menjadi bagian penting dalam memahami perubahan atmosfer planet tersebut. Bukti geologis menunjukkan bahwa Mars pernah memiliki medan magnet global yang dihasilkan oleh proses internal di dalam planet.
Saat ini, medan magnet global tersebut sudah tidak aktif. Meski demikian, jejak medan magnet lokal masih dapat ditemukan pada beberapa bagian kerak Mars.
Medan magnet planet dapat memengaruhi cara atmosfer bagian atas berinteraksi dengan aliran partikel bermuatan yang berasal dari Matahari. Setelah medan magnet global Mars melemah dan berhenti bekerja, lingkungan interaksi antara atmosfer Mars dan lingkungan luar angkasa pun berubah.
Namun, penting untuk tidak menyederhanakan masalah ini menjadi satu penyebab tunggal. Hilangnya medan magnet bukan berarti seluruh air Mars langsung tersapu ke luar angkasa. Evolusi atmosfer Mars merupakan hasil dari berbagai proses yang berlangsung secara bersamaan dalam waktu yang sangat lama.
Matahari terus mengirimkan aliran partikel bermuatan yang dikenal sebagai angin Matahari. Ketika partikel-partikel tersebut berinteraksi dengan atmosfer bagian atas Mars, sebagian material atmosfer dapat terdorong atau dipercepat hingga akhirnya meninggalkan planet.
Proses tersebut mungkin tampak kecil jika diamati dalam waktu singkat. Namun, Mars memiliki sejarah miliaran tahun. Efek yang berlangsung perlahan dapat menghasilkan perubahan besar jika terus terjadi dalam rentang waktu yang luar biasa panjang.
Berkurangnya atmosfer kemudian menciptakan efek lanjutan. Tekanan permukaan menjadi lebih rendah sehingga air cair semakin sulit bertahan. Dengan kondisi tersebut, lingkungan Mars secara perlahan bergerak menuju keadaan yang jauh lebih kering seperti yang terlihat sekarang.
Radiasi ultraviolet Matahari juga memiliki peran penting. Ketika uap air mencapai atmosfer bagian atas, radiasi ultraviolet dapat memecah molekul air menjadi hidrogen dan oksigen.
Hidrogen yang sangat ringan kemudian lebih mudah melarikan diri ke luar angkasa. Para ilmuwan dapat mempelajari perbandingan hidrogen dan deuterium, yaitu bentuk hidrogen yang lebih berat, untuk mendapatkan petunjuk mengenai sejarah kehilangan air Mars.
Proses tersebut juga tidak selalu berlangsung dengan kecepatan yang sama. Perubahan musim, aktivitas atmosfer, serta variasi kondisi orbit Mars dapat memengaruhi jumlah uap air yang mencapai atmosfer atas dan tingkat pelepasan hidrogen.
Dengan kata lain, Mars bukan sekadar planet yang kehilangan air. Planet ini mengalami sistem atmosfer yang terus berubah dan berinteraksi dengan lingkungan luar angkasa.
Perubahan Mars dari dunia yang pernah lebih basah menjadi planet kering seperti sekarang bukanlah sebuah peristiwa mendadak. Prosesnya berlangsung perlahan melalui kombinasi perubahan atmosfer, radiasi Matahari, aktivitas geologi, kondisi permukaan, serta pelepasan material ke luar angkasa.
Ketika atmosfer semakin tipis, air cair di permukaan menjadi semakin sulit bertahan. Pada saat yang sama, sebagian air berpindah ke tempat lain dan tersimpan sebagai es, berada di bawah tanah, atau terikat dalam mineral. Sebagian lainnya benar-benar meninggalkan Mars.
Hilangnya medan magnet global kemungkinan turut memengaruhi perjalanan tersebut karena mengubah interaksi Mars dengan lingkungan partikel dari Matahari. Namun, faktor tersebut hanyalah salah satu bagian dari rangkaian proses yang jauh lebih kompleks.
Pada akhirnya, Mars memberikan gambaran menarik tentang bagaimana sebuah planet dapat berubah secara dramatis. Lembah kuno, cekungan danau, delta, mineral yang pernah berinteraksi dengan air, serta reservoir es bawah tanah menjadi semacam arsip alam yang merekam perjalanan panjang Planet Merah.
Jadi, ketika melihat Mars sebagai dunia tandus berwarna merah, jangan langsung menganggap planet tersebut selalu seperti itu. Di balik permukaannya yang kering tersimpan bukti bahwa Mars pernah mengalami lingkungan yang sangat berbeda.
Airnya memang tidak seluruhnya lenyap. Sebagiannya masih membeku, tersembunyi di bawah permukaan, atau tersimpan di dalam mineral. Sebagian lainnya telah melakukan perjalanan jauh meninggalkan Mars.
Misteri terbesar justru terletak pada pertanyaan yang masih terus diteliti para ilmuwan: seberapa basah Mars pada masa lalunya, berapa lama kondisi tersebut bertahan, dan seberapa besar perubahan lingkungan yang dialami Planet Merah sebelum menjadi dunia kering seperti sekarang?