Karya seni yang sudah selesai biasanya menjadi pusat perhatian. Lukisan dipajang dalam bingkai, pencahayaan diatur dengan cermat, lalu pengunjung diajak menikmati hasil akhirnya. Namun, ada satu benda yang sering kali justru menyimpan cerita jauh lebih menarik, yaitu sketchbook.
Buku gambar ini bukan sekadar kumpulan coretan. Di dalamnya tersimpan jejak bagaimana seorang seniman mengamati sesuatu, mencoba sebuah gagasan, melakukan kesalahan, mengubah keputusan, lalu menemukan arah baru.
Jika karya akhir memperlihatkan hasil yang sudah dipoles, sketchbook memperlihatkan perjalanan sebelum semuanya terlihat sempurna. Halaman-halamannya dapat memperlihatkan keraguan, eksperimen, pengulangan, hingga ide spontan yang mungkin tidak pernah muncul dalam karya final. Karena itulah, sketchbook sering dianggap sebagai salah satu catatan paling jujur tentang cara seorang seniman berpikir dan bekerja.
Secara sederhana, sketchbook merupakan buku dengan halaman kosong yang dapat digunakan untuk menggambar, membuat catatan, menguji warna, atau menyusun berbagai studi visual. Namun bagi banyak seniman, fungsinya jauh lebih besar daripada sekadar media untuk mencoret-coret.
Di dalam sketchbook, gagasan dapat muncul tanpa harus langsung terlihat sempurna. Sebuah bentuk bisa digambar berkali-kali, komposisi dapat dipindahkan, sementara ide yang terasa kurang cocok bisa ditinggalkan begitu saja. Tidak ada tuntutan bahwa setiap halaman harus menghasilkan karya yang layak dipamerkan.
Leonardo da Vinci menjadi salah satu contoh menarik. Buku catatannya memuat berbagai pengamatan mengenai anatomi, tumbuhan, mekanisme, serta beragam persoalan yang menarik perhatiannya. Dari halaman ke halaman, terlihat bagaimana rasa ingin tahunya berpindah dari satu pertanyaan menuju pertanyaan lainnya. Sketchbook dalam konteks ini bukan hanya tempat menggambar, tetapi seperti ruang kerja bagi pikiran.
Karya yang sudah selesai sering kali membuat proses di baliknya tidak terlihat. Kesalahan telah diperbaiki, komposisi sudah dipilih, dan bagian yang tidak diperlukan mungkin sudah dihilangkan. Sketchbook justru menyimpan semua jejak tersebut.
Anda mungkin menemukan gambar tangan yang dibuat berulang-ulang, bentuk tubuh dengan berbagai posisi, komposisi yang dicoret, atau percobaan warna yang ditempatkan di sudut halaman. Sekilas tampak tidak beraturan, tetapi setiap coretan dapat memberikan petunjuk mengenai apa yang sedang dipelajari sang seniman.
Edgar Degas, misalnya, dikenal banyak mengamati gerakan dan posisi para penari. Dalam berbagai studi gambarnya, satu gerakan dapat muncul berulang dengan perubahan kecil pada posisi tubuh, arah kepala, atau keseimbangan kaki. Pengulangan semacam itu bukan tanda kehabisan ide. Justru di situlah terlihat ketekunan seorang seniman dalam memahami gerakan secara lebih mendalam.
Salah satu alasan sketchbook terasa begitu personal adalah karena banyak di antaranya memang tidak dibuat untuk mengesankan orang lain. Buku tersebut dapat berfungsi sebagai alat kerja, tempat mencatat pengamatan, atau studio kecil yang bisa dibawa ke mana saja.
J. M. W. Turner dikenal membawa sketchbook dalam perjalanannya. Ia menggunakannya untuk mencatat berbagai hal yang ditemuinya, mulai dari bangunan, garis pantai, suasana langit, hingga perubahan cahaya. Pemandangan yang hanya terlihat beberapa saat dapat diterjemahkan menjadi garis dan bentuk sederhana di atas kertas.
Halaman seperti itu terasa berbeda dari karya yang sejak awal dirancang untuk dipamerkan. Tidak ada kebutuhan untuk membuat setiap bagian sempurna. Yang penting adalah menangkap sesuatu sebelum kesan tersebut menghilang.
Seniman tidak selalu memiliki gaya dan cara berpikir yang sama sepanjang hidupnya. Ketertarikan dapat berubah, teknik berkembang, sementara keberanian untuk mencoba sesuatu yang berbeda juga bisa meningkat. Sketchbook membuat perubahan tersebut lebih mudah ditelusuri.
Melalui puluhan atau bahkan ratusan halaman, Anda dapat melihat bagaimana sebuah gagasan berkembang secara bertahap. Pablo Picasso menjadi salah satu contoh yang menarik untuk diamati melalui buku-buku sketsanya. Berbagai studi mengenai bentuk manusia dan figur memperlihatkan bagaimana ia terus mengeksplorasi cara baru dalam menyederhanakan maupun mengubah bentuk.
Pada karya yang sudah selesai, proses perubahan tersebut sering kali tidak terlihat. Namun di dalam sketchbook, satu halaman dapat terasa seperti jawaban sementara, sedangkan halaman berikutnya seolah mengatakan bahwa masih ada kemungkinan lain yang perlu dicoba.
Menariknya, sketchbook tidak selalu penuh dengan gambar. Beberapa halaman dapat berisi kata-kata pendek, catatan warna, ukuran, daftar ide, pengingat, atau potongan kalimat yang berkaitan dengan rencana karya berikutnya.
Campuran antara gambar dan tulisan tersebut menunjukkan bahwa proses kreatif sebenarnya tidak selalu berjalan secara rapi. Sebuah gagasan visual dapat muncul bersamaan dengan sebuah kalimat. Catatan kecil tentang warna dapat berdampingan dengan sketsa objek. Bahkan sebuah ide yang tampaknya sederhana mungkin menjadi awal dari karya yang jauh lebih besar.
Bagi pengamat, halaman seperti ini terasa sangat dekat. Anda seakan melihat seseorang sedang berpikir tanpa harus menyaksikan seluruh prosesnya secara langsung.
Sketchbook juga memiliki nilai penting bagi museum, peneliti, dan orang-orang yang mempelajari sejarah seni. Buku tersebut dapat membantu menjelaskan hubungan antara sebuah karya akhir dan proses yang mendahuluinya.
Sebuah lukisan mungkin terlihat sudah dirancang dengan sangat matang ketika berada di ruang pamer. Namun studi awal dapat memperlihatkan bahwa komposisinya pernah mengalami beberapa perubahan. Posisi objek mungkin sempat berbeda, pilihan warna bisa berubah, atau detail tertentu baru ditambahkan pada tahap akhir.
Bagi konservator dan sejarawan seni, informasi seperti itu sangat berharga. Sketchbook dapat menjadi bukti visual mengenai kebiasaan kerja, perkembangan gagasan, perjalanan, serta berbagai eksperimen seorang seniman. Satu buku kecil bahkan dapat menyimpan informasi yang tidak mungkin ditemukan hanya dengan melihat satu karya jadi.
Sketchbook terasa begitu menarik karena menyimpan sesuatu yang sering hilang dari karya akhir, yaitu jejak pemikiran. Di sana terdapat kecepatan tangan, keraguan, rasa penasaran, pengulangan, kesalahan, dan keberanian untuk mencoba lagi.
Karya yang sudah selesai tentu tetap memiliki nilai tersendiri. Namun jika Anda ingin memahami bagaimana seorang seniman melihat dunia sebelum sebuah karya menjadi sempurna, jangan terburu-buru melewati halaman sketchbook.
Coretan yang tampak sederhana mungkin merupakan hasil dari pengamatan yang sangat serius. Gambar yang terlihat belum selesai bisa menjadi awal dari sebuah gagasan besar. Bahkan halaman yang penuh garis dan coretan dapat menceritakan lebih banyak tentang seorang seniman daripada karya yang sudah terpajang dengan rapi.
Jadi, lain kali Anda menemukan sketchbook di samping sebuah karya seni, jangan menganggapnya sebagai kumpulan gambar percobaan yang tidak penting. Bisa jadi, justru di sanalah cerita paling jujur tentang perjalanan kreatif sang seniman tersimpan.