Hi, Lykkers! Hyena sering muncul dalam film dokumenter sebagai hewan pemakan bangkai yang cerdas, tangguh, dan hidup berkelompok di padang savana Afrika.


Namun, satu pertanyaan menarik kerap muncul: mengapa hewan ini tidak pernah ditemukan di Indonesia, padahal wilayah Nusantara dikenal sangat kaya akan keanekaragaman satwa?


Jawabannya berkaitan erat dengan sejarah evolusi, kondisi geografis, iklim, hingga ekosistem alami.


Persebaran Alami Hyena di Dunia


Hyena bukan hewan yang tersebar luas di seluruh dunia. Secara alami, hyena hanya ditemukan di Afrika dan sebagian kecil Asia Barat serta Asia Selatan, seperti India dan Timur Tengah. Ada empat spesies utama hyena, yaitu hyena tutul, hyena belang, hyena cokelat, dan aardwolf. Keempatnya berevolusi dan beradaptasi dengan lingkungan kering seperti savana, padang rumput terbuka, dan semi-gurun.


Indonesia, sejak awal pembentukan ekosistemnya, tidak termasuk wilayah persebaran alami hyena. Hal ini menjadi faktor utama mengapa hyena tidak pernah menjadi bagian dari fauna asli Nusantara.


Peran Sejarah Geologi dan Garis Wallace


Salah satu alasan paling penting adalah sejarah geologi. Indonesia terletak di wilayah pertemuan dua kawasan fauna besar dunia: Asia dan Australia. Pembagian ini dikenal dengan Garis Wallace, garis imajiner yang memisahkan jenis fauna Asia dan Australia.


Wilayah barat Indonesia seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan memiliki fauna khas Asia, termasuk gajah, harimau, dan badak. Sementara wilayah timur seperti Papua memiliki fauna yang lebih dekat dengan Australia, seperti kanguru pohon dan burung cendrawasih. Hyena tidak termasuk fauna Asia Tenggara, sehingga tidak pernah melewati jalur migrasi alami menuju kepulauan Indonesia, bahkan saat zaman es ketika permukaan laut lebih rendah.


Perbedaan Habitat dan Ekosistem


Hyena sangat bergantung pada habitat terbuka dengan jarak pandang luas. Savana Afrika menyediakan ruang besar untuk berburu, berkelompok, dan mencari bangkai. Indonesia, sebaliknya, didominasi oleh hutan hujan tropis yang lebat, lembap, dan tertutup.


Lingkungan hutan tropis kurang cocok bagi gaya hidup hyena yang mengandalkan penglihatan, kecepatan di ruang terbuka, serta kompetisi dengan predator besar seperti singa. Di Indonesia, ekosistem hutan lebih mendukung predator seperti harimau, macan tutul, dan anjing liar Asia (ajag), yang telah lebih dulu beradaptasi dengan kondisi tersebut.


Iklim yang Tidak Mendukung


Hyena terbiasa hidup di wilayah dengan musim kering yang panjang dan curah hujan rendah hingga sedang. Indonesia memiliki iklim tropis basah dengan kelembapan tinggi dan hujan sepanjang tahun. Kondisi ini memengaruhi ketersediaan mangsa, pola berburu, serta kesehatan hewan.


Adaptasi fisiologis hyena, termasuk bulu, metabolisme, dan perilaku sosial, lebih sesuai untuk wilayah kering. Tanpa tekanan evolusi untuk beradaptasi dengan iklim tropis basah, hyena sulit bertahan jika harus hidup alami di Indonesia.


Kompetisi dengan Predator Lokal


Dalam ekosistem alami, setiap predator memiliki peran dan wilayahnya sendiri. Indonesia sudah memiliki predator puncak seperti harimau Sumatra dan macan tutul, serta pemangsa menengah seperti ajag. Kehadiran hyena akan menciptakan kompetisi baru yang berat, baik dalam hal mangsa maupun wilayah.


Karena hyena tidak pernah berevolusi bersama fauna Indonesia, tidak ada ceruk ekologi yang “kosong” bagi mereka. Hal ini membuat keberadaan hyena di alam liar Indonesia secara alami hampir mustahil.


Mengapa Tidak Pernah Diperkenalkan?


Berbeda dengan beberapa hewan asing yang diperkenalkan manusia ke wilayah baru, hyena tidak pernah dibawa ke Indonesia untuk dilepasliarkan. Selain berbahaya, introduksi predator asing dapat merusak keseimbangan ekosistem, mengancam satwa lokal, dan memicu konflik dengan manusia. Prinsip konservasi modern justru mencegah tindakan semacam ini.


Tidak adanya hyena di Indonesia bukanlah sebuah keanehan, melainkan hasil dari proses alam yang panjang. Faktor sejarah evolusi, letak geografis, perbedaan habitat, iklim tropis, serta keseimbangan ekosistem menjadikan Indonesia bukan rumah yang cocok bagi hyena. Keanekaragaman hayati Nusantara memiliki jalur evolusi uniknya sendiri, yang membedakannya dari Afrika dan wilayah lain di dunia.


Keunikan inilah yang menjadikan setiap kawasan memiliki satwa khasnya masing-masing, dan justru memperkaya wajah alam global secara keseluruhan.